Tampilkan postingan dengan label Grup JODOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Grup JODOH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2015

Jodoh Hadits 50

Syarah Hadits ke-50
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC

بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.

قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Jihad yang paling utama adalah kalimat yang haq di sisi (di hadapan) seorang penguasa yang zhalim.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan juga Al-Imam Ibnu Majah dalam Sunannya dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahih Al-Jāmi' AshShaghīr.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits ini menunjukkan bahwa jihad yang paling afdhāl (yang paling utama) adalah kalimatu haqqin (kalimat yang haq) yang diriwayatkan Tirmidzi kalimatu 'Adlin, kalimat adil.

Yang dimaksud kalimat disini adalah ucapan atau yang menempati kedudukannya seperti tulisan dan yang semacamnya adalah kalimat yaitu ketika diucapkan disisi seorang penguasa yang zhalim.

Yang ini merupakan jihad yang paling afdhāl (paling utama) ketika seseorang mengucapkan kalimat yang haq, ucapan yang adil dihadapan seorang penguasa yang zhalim.

Dari segi bahwa ini jihad yang paling afdhāl karena sesungguhnya ketika seseorang berjihad mengucapkan kalimat yang haq, menashihati seorang penguasa yang zhalim ini maka akan membebaskan kezhaliman dari banyak manusia. Karena ketika seorang penguasa yang zhalim maka kezhalimannya akan mengenai banyak dari manusia, kalau dia bisa menahan dari kezhalimannya, dengan ucapannya dihadapannya yang haq, yang adil maka akan bermanfaat kepada banyak dari manusia.

Berbeda kalau hanya membunuh seorang kafir maka ini sedikit atau kalah manfaatnya dibanding kalau dia bisa menepis kezhaliman yang dilakukan oleh seorang penguasa.

Yang dimaksud sulthān disini adalah orang yang memiliki kekuasaan. Kalau dalam riwayat yang lain "pada penguasa atau pada pemerintah yang curang".

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits ini menunjukkan kepada kita hasungan kepada jihad yang merupakan puncak dari amalan Islam. Dan jihad yang paling utama adalah ketika seseorang mengucapkan kalimat yang haq dihadapan seorang penguasa yang zhalim.

Dan jihad ini meliputi dari:
• jihad melawan hawa nafsu didalam melaksanakan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dan
• didalam menghindari/menjauhi segala macam larangan Allāh Subhānahu wa Ta'ālā kemudian
• berjihad untuk mengamalkan dari apa yang diketahui dari syari'at Allāh Subhānahu wa Ta'ālā kemudian mengajarkannya.
• Kemudian dia termasuk jihad dalam jihad melawan syaithan, menepis dari syubhatnya, dari ganguan-gangguan-gangguannya.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits ini menunjukkan bahwa diantara jihad yang paling afdhāl (yang paling utama) adalah ketika seseorang menashihati penguasa yang zhalim agar berhenti dari kezhalimannya, yang ini dikatakan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagai jihad yang paling afdhāl karena akan memberi manfaat yang besar kepada rakyat, kepada kaum muslimin yang akan terbebas dari kezhaliman seorang penguasa yang zhalim ini.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, sesungguhnya seorang penguasa memiliki dua teman setia (teman dekat); ada teman dekat yang jelek, ada temen dekat yang baik.

Teman dekat dari penguasa yang jelek adalah ketika dia selalu menuruti apa yang dimaui oleh penguasa ini, bahkan dia mengatakan apapun yang dilakukan adalah kebaikan dan kebenaran meskipun dilakukan kejelekan ini adalah temen yang jelek bagi penguasa.

Adapun teman yang haq, teman yang baik bagi penguasa yang dia mementingkan keridhaan Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dan RasulNya dan menunjukkan penguasa ini pada keridhaan Allāh dan RasulNya. Kalau dia melakukan kesalahan maka diarahkan kepada petunjuk yang benar, tidak segera mengikuti kemauannya tetapi mengarahkan apa yang keliru kepada petunjuk dan kebenaran yang datang dari Allāh dan RasulNya.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka ada beberapa kalimat yang memiliki nilai tersendiri yaitu kalimat yang diucapkan dihadapan seorang sulthan penguasa yaitu:
❶ Kalimat yang haq disisi seorang penguasa yang adil. Ini adalah mudah dilakukan, karena dia seorang yang adil sehingga mudah mengikuti kebenaran.
❷ Kalimat yang bathil pada seorang penguasa yang adil. Ini sangat berbahaya karena bisa saja orang penguasa yang adil ini akan bisa terjerumus dengan bisikan dari orang yang membisikan kejelekan padanya dengan menampakkan suatu kebaikan karena dia akan terpengaruh dengannya.
❸ Kalimat yang haq disisi seorang penguasa yang curang (yang zhalim), ini seperti yang dikatakan Rasūlullāh sebagai jihad yang paling utama.
❹ Kalimat yang bathil pada penguasa yang curang. Ini adalah kalimat yang paling jelek.

Ini adalah 4 macam kalimat disisi seorang penguasa, akan tetapi yang paling afdhāl adalah kalimat yang haq dihadapan seorang penguasa yang jāir (yang zhalim)

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, kenapa dikatakan bahwa kalimat haq dihadapan sulthān yang jāir (yang zhalim) ini lebih afdhāl daripada jihad melawan musuh (melawan kafir)?

Karena ketika seorang berjihad melawan musuh maka dia antara harapan dan kecemasan bisa jadi menang atau dia kalah. Adapun ketika seorang berbicara dihadapan penguasa yang zhalim maka jelas yang lebih besar kemungkinan adalah dia akan mendapatkan perkara yang tidak baik, jika penguasa zhalim ini tidak terima atau dia tidak bisa menerima ucapan tersebut. Maka dikatakan lebih afdhāl dibanding orang yang berperang kafir yang kadang dia menang kadang dia kalah.

Bahkan orang yang mengucapkan kalimat yang haq dihadapan penguasa yang zhalim ini dia telah memaparkan dirinya kepada perkara yang berbahaya, yang mungkin bisa dia sampai terbunuh dihadapan penguasa tersebut. Maka ini dikatakan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagai jihad yang paling utama karena adalah perkara yang berat yang tidak semua orang bisa melakukannya atau kuat untuk menanggung dari akibatnya.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, termasuk kalimat yang haq yang diucapkan dihadapan seorang sulthan atau seorang penguasa yang zhalim adalah yang mengandung perintah kepada yang ma’ruf atau nahi mungkar entah itu secara terucap dari lisan maupun yang semakna dengan lisan, dari tulisan dan yang semacamnya.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka ucapan yang haq dihadapan penguasa zhalim ini adalah jihad paling utama dan jihad yang paling berat karena dihadapannya telah siap seorang penguasa yang mampu untuk melakukan apa yang dikehendaki bagi dirinya bahkan bisa untuk membunuhnya yang ini menunjukkan tentang beratnya dari jihad ini sehingga Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan adalah jihad yang paling afdhāl (yang paling utama).

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, marilah kita bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dan juga berupaya mujahadah, berjihad kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dengan jihad dengan makna yang luas, berjihad dengan hawa nafsu kita, berjihad melawan syaithan, berjihad melawan musuh dan berupaya untuk berjihad memberikan kalimat yang haq dihadapan sulthan yang zhalim, yang ini adalah afdhāl jihad.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'ālā melakukan kita diatas jalannya memberikan taufik kepada kita untuk selalu mengikuti petunjuk Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

الحمد للّه رب العلمين

و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Jodoh Hadits 49

Syarah Hadits ke-49
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC

بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.

قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ؛ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Kondisi yang paling dekat seorang hamba dari Tuhannya adalah ketika dia sedang sujud, maka hendaknya kalian memperbanyak do’a ketika sujud.

Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya.

Ini merupakan hadits yang agung yang menunjukkan kondisi keadaan yang paling dekat dari seorang hamba Allāh Subhānahu wa Ta'ālā yaitu dalam sujudnya, ketika ia sujud kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Karena sujud adalah keadaan yang sangat puncak kehinaan, puncak penghinaan diri kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Dan jika seorang hamba mengetahui kehinaan pada dirinya dan butuhnya kepada Allāh maka Allāh akan mengetahui bahwa dia adalah telah menghinakan pada dirinya. Dan ketika seorang hamba menghinakan diri dengan bersujud kepada Allāh dimata Allāh-lah yang paling tinggi, yang paling agung, maka  dengan itulah Allāh akan mengabulkan do'anya. Dengan itulah maka sujud adalah di antara tempat dikabulkan do'a seorang hamba kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Karena itulah maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menghasung agar seorang banyak berdo'a dalam sujudnya dengan mengucapkan:

“فَأَكْثِرُوا فِيْ الدُّعَاء”

Perbanyaklah kalian berdo'a ketika sedang sujud.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, berkata sebagian ulama bahwa ketika seorang hamba bersujud pada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, maka terkumpul baginya wajahnya dengan wajah bumi sehingga kemudian dia  hilanglah segala macam kesombongannya, menghinakan diri pada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā karena itulah maka ini adalah kondisi paling dekat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā di dalam seluruh dari keadaan-keadaan shalatnya.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka hadits yang agung ini menunjukkan bahwa kondisi yang paling dekat dari seorang hamba adalah ketika bersujud pada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā makanya Rasūlullāh memerintahkan agar memperbanyak do'a karena ketika dia saat dekat maka saat itulah waktu yang Allāh akan lebih mengabulkan do'anya karena ketika seorang lebih dekat pada siapa yang diminta, lebih wajib dikabulkan permintaannya.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, juga dijelaskan oleh para ulama bahwa maksud dekatnya seorang hamba kepada Allāh ketika sujud karena seorang yang bersujud dalam kondisi berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, sedangkan Allāh dekat dengan orang-orang yang berdo'a yang meminta padaNya. Allāh berfirman dalam kitabNya:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّي فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Jika para hambaKu bertanya tentang diriKu maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan setiap orang yang berdo'a ketika berdo'a kepadaKu.” (Al-Baqarah;186)

Dan dalam sujud, orang merendahkan dirinya, menempatkan wajahnya, kepalanya lebih rendah dari pada kedua pantatnya. Inilah kondisi yang paling menghinakan diri pada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Inilah yang paling dicinta Allāh ketika seorang benar-benar menghinakan diri kepadaNya.

Kemudian juga disebutkan oleh para ulama kenapa sujud adalah keadaan paling dekat dengan Allāh karena sujud adalah ibadah yang pertama kali Allāh perintahkan setelah Allah menciptakan Adam, yaitu memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam. Maka ketika itu perintah yang pertama kali yang melakukan ibadah yang pertama ini lebih dekat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Kemudian juga dalam kondisi ini seorang menyelisihi iblis ketika mereka bermaksiat pertama kali  kepada Allāh dengan mereka tidak mau melakukan ibadah sujud ini.

Dan sujud ini adalah ibadah puncak dari tawadhu', puncak dari kerendahan diri pada Allāh, meninggalkan kesombongan, takkabur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, yang ini juga ketika orang bersujud dia menyelisihi jiwanya yang ingin pada ketinggian dan menjauhkan dari hawa nafsunya, yang mendekatkan hawa nafsunya lebih dekat kepada Rabbnya 'Azza wa Jalla.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memerintahkan kepada kita semua agar memperbanyak do'a ketika sujud karena dia adalah kondisi yang paling dekat dengan Allāh, dan kondisi yang terdekat akan lebih dikabulkan dari do'anya karena seorang sayyid, Allāh mencintai pada hamba yang taat padaNya, yang tawadhu' padaNya, yang menerima dari apa yang diarahkan padanya dan apa yang akan diminta akan dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Hadits ini menunjukkan tentang disyari'atkannya memperbanyak doa ketika sujud, dan juga memperbanyak sujud itu sendiri, karena dia adalah kondisi yang paling dekat dari seorang hamba kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Kemudian juga hadits ini tidak merupakan, bantahan bahwa sujud ketika bukan dalil, atau hadits ini bukan merupakan dalil bagi orang yang menyatakan bahwa sujud lebih utama dari qiyām. Karena masalah keutamaan ini dari segi terkabulkan do'a, bukan dari segi keutamaan di dalam shalat karena yang utama adalah ketika seorang berdiri pada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dalam shalatnya.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka marilah kita banyak bersujud kepada Allāh dan banyak mendekatkan diri kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, banyak berdoa kepada Allāh semoga kita termasuk orang-orang yang diridhai dan dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Jodoh Hadits 48

Syarah Hadits ke-48
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC

بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.

قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَدْخُلُ بَيْتًا يُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Bacalah kalian surat Al-Baqarah dalam rumah-rumah kalian karena sesungguhnya syaithan tidak akan memasuki rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.

Hadits ini diriwayatkan Al-Hakim di dalam Mustadrak, dan Al-Bayhaqi dalam Syu'abul Iman dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahih Al-Jāmi' AshShaghīr.

Hadits ini menunjukkan keutamaan dari surat Al-Baqarah, yang mana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan bahwa dengan dibaca surat Al-Baqarah maka syaithan tidak akan masuk ke dalam rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah tersebut.

Dan didalam hadits yang lain Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memerintahkan agar membacakan surat Al-Baqarah, beliau bersabda:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan-kuburan, sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits yang agung ini menunjukkan tentang pentingnya membaca surat Al-Baqarah yaitu akan menjadikan syaithan lari dari rumah kita, yang kita bacakan Al-Baqarah tersebut.

Dan juga keutamaan dari surat Al-Baqarah ini yang mana barang siapa yang tidak membaca surat Al-Baqarah maka seakan-akan rumahnya seperti kuburan. Seperti hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yaitu tidak sah shalat di dalamnya sebagaimana datang hadist larangan sholat di kuburan.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka hadits ini menunjukkan bahwa syaithan akan lari di rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya, tidak akan mendekatinya.

Kata Syaikh Muhammad Al-'Utsaimin bahwa sebab hal tersebut karena di dalam surat Al-Baqarah ada ayatul kursi, yang di dalam hadits yang shahih bahwa dengan membaca ayat kursi maka seseorang akan terjaga dari syaithan malamnya sampai paginya. Kemudian juga surat Al-Baqarah mengandung banyak sekali keutamaan di dalamnya terdapat ayat kursi yang mengandung sifat-sifat, nama-nama Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, yang juga terdapat nama Allāh yang agung, yang ketika seorang berdo'a maka akan dikabulkan Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, yang ini juga menunjukkan tentang keutamaan dari surat Al-Baqarah ini.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka dengan kita membiasakan membaca Alqurān khususnya surat Al-Baqarah ini akan menjaga rumah-rumah kita dari datangnya syaithan sebagaimana dalam hadits ini syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, marilah kita menghidupkan rumah kita dengan Kitabullāh, menjaga rumah kita dari datangnya syaithan dengan membacakan Al-Baqarah dan tidak menjadikan rumah kita sebagai kuburan yang tidak pernah dibacakan Alqurān di dalamnya, tidak pernah dilakukan ibadah di dalamnya, yang Allāh Subhānahu wa Ta'ālā akan memberkahi rumah yang dibacakan Kitabullāh, ayat-ayatNya dan juga akan memberkahi rumah yang didalamnya banyak dilakukan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, inilah hadits yang agung yang menunjukkan tentang keutamaan dari surat Al-Baqarah yang disebutkan oleh para ulama, bahwa maksud dibacakan disini surat Al-Baqarah secara keseluruhan, dan didalamnya terdapat ayat kursi yang tadi kita sebutkan keutamaannya. Dan maksud dibacakan Al-Baqarah adalah dibacakan secara langsung meskipun juga datang penjelasan dari sebagian ulama, kalau memang tidak mampu seseorang membaca Al-Baqarah secara langsung kemudian dia bisa menyetel, menghidupkan tape atau alat pemutar audio yang bisa memperdengarkan Alqurān maka beliau menyatakan yang zhahir bahwa termasuk mendapat keutamaan ini, yaitu syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan Al-Baqarah meskipun dari alat perekam atau pemutar audio tersebut, meskipun jelas ketikq seorang membaca langsung maka ini lebih utama sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Syaikh 'Utsaimin rahimahullāh Ta'ālā. Beliau menyatakan:

أنه يحصل بقراءة سورة البقرة كلها من المذياع أو من صاحب البيت ما ذكره النبي صلى الله عليه وسلم من فرار الشيطان من ذلك البيت

Wallāhu a'lam bahwa dengan dibacakan Al-Baqarah dari radio atau dari pemilik rumah maka masuk di dalam hadits Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan Al-Baqarah tersebut.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, marilah kita memperbanyak dzikrullāh, memperbanyak membaca Alqurān, baca Al-Baqarah di dalam rumah kita sehingga syaithan akan lari dan juga menjauhkan dari suara-suara yang akan datang bisikan dari syaithan, dari seruling syaithan, musik-musik yang diharamkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

والله أعلم بالصواب

و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Jodoh Hadits 47

Syarah Hadits ke-47
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC

بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.

قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: أكثروا ذكر هاذم اللذات الموت

Hendaknya kalian memperbanyak dari menyebut pemutus dari kelezatan-kelezatan yaitu kematian.

Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi  di dalam Jāmi’nya, dari Imam Nasā’i dalam Sunannya, dari Imam Ibnu Majah dalam Sunannya dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Al-Jāmi' AshShaghīr.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits yang agung ini menunjukkan perintah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pada kita semua agar banyak menyebut mengingat perkara yang akan bisa menghilangkan seluruh kelezatan yang kita rasakan di dunia yaitu kematian.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: "Hendaknya kalian banyak mengingat pemutus dari kelezatan”. هاذم (hādzim) diriwayatkan dengan dzal mu’jamah dengan titik ( ذ ) yang artinya adalah pemutus, dari suatu dari akarnya. Kemudian juga ada dari riwayat yang lain dengan dal (د) nurmala, tanpa titik yang artinya penghancur atau peroboh dari bangunan, yang dua-duanya ini adalah makna yang shahih, yang menunjukkan bahwa kematian akan memotong  (memutus) kelezatan sekaligus merobohkan bangungan dari kenikmatan yang dirasakan oleh manusia di dunia.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengingatkan kepada kita, memerintahkan agar kita banyak mengingat kepada perkara yang bisa menghancurkan, memotong, memutus kelezatan di dunia, merobohkan bangunan kenikmatan di dunia, yaitu kematian, yang ini pasti datang pada setiap manusia.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ

Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. (Ali Imran 185)

Entah cepat atau lambat, pasti seseorang akan datang ajalnya, datang malaikat maut menjemputnya dan setelah itulah hilang semua kenikmatan kelezatan yang dirasakan di dunia.

Maka hadits ini menunjukkan perintah kepada kita untuk mengingat kematian, yakni dengan kematian itu akan ingat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, tidak begitu terperdaya dengan dunia atau begitu cinta dengan dunia, dan akan bisa menepis, menghalangi kita untuk berbuat kemaksiatan dan akan bisa mendorong kita untuk ketaatan karena kita akan mati mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita dihadapan Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka hadits yang agung ini menunjukkan tentang perintah pada kita agar banyak mengingat kematian, karena sesungguhnya ketika seseorang banyak mengingat kematian maka tidak akan panjang angan-angannya.

Akan tetapi kalau seorang lupa dengan kematian, panjang angan-angannya, seakan-akan dia hidup selamanya, ini sangat berbahaya bagi perjalanannya. Karena perjalanan dunia adalah sementara, perjalanan yang belum final, yang nanti akan ada perjalanan yang lebih abadi di akhirat ketika seseorang menghadap kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Berkata sebagian ulama, yaitu ketika seseorang banyak mengingat kematian dia akan dimuliakan dengan tiga perkara:
❶ Akan segera bertobat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
❷ Akan merasa cukup hatinya dari apa yang diberikan Allāh bagi dirinya karena dia pasti akan meninggalkannya agar banyak diterima, didapatkan semua yang ditinggalkan karena dia akan merasa cukup, karena dia tahu bahwa itu bukan selamanya.
❸ Akan menjadikan seorang rajin, semangat beribadah.

Kebalikannya kalau orang dilupakan kematian akan dihukum dengan tiga perkara:
❶ akan berlama-lama mengulur-ulur dari taubat.
❷ dia tidak merasa cukup dengan apa yang diberikan Allāh pada dirinya.
❸ malas beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka marilah kita semua selalu mengingat kematian yang pasti akan datang pada kita, dalam waktu cepat atau lambat yang pasti akan datang dan kita semua tidak tahu kapan ajal menjemput.

Semoga dengan kita selalu mengingatnya, kita bisa mempersiapkan diri kepadaNya, perkara yang akan datang setelahnya di akhirat, yang kita akan pertanggungjawabkan semua amalan kita dihadapan Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Semoga Allāh selalu memberikan taufiq kepada untuk selalu ingat pada kematian, ingat kepada tujuan kita hidup di dunia, yaitu beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, ingat bahwa kita akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kita, amalan kita di dunia pada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita dalam kebaikan, menjauhkan kita dari jalan-jalan kejelekan.

و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Rabu, 28 Januari 2015

Jodoh Hadits 46

Syarah Hadits ke-46
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC

بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.

قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: أفضل العبادة الدعاء

Ibadah yang paling afdhāl (yang paling utama) adalah do'a.

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Mustadrak dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahih Al-Jāmi' AshShaghīr.

Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa ibadah paling utama adalah do'a karena do'a ini Allāh perintahkan di dalam kitabNya. Allāh berfirman di dalam kitabNya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِين

Dan berkata Rabb (Tuhan)  kalian: Berdoalah kalian padaKu, niscaya Aku akan mengabulkan bagi kalian. Sesungguhnya orang yang sombong dari ibadah padaKu (tidak mau padaKu) maka akan masuk neraka dalam keadaan hina. (Ghāfīr 60)

Ayat ini menunjukkan bahwa do'a adalah perintah Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, bahkan Allāh menyatakan bahwa orang yang tidak mau berdo'a maka dia orang yang sombong, akan masuk neraka dalam keadaan hina.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits yang agung ini merupakan berita gembira bagi kita semua karena kita semua sangat butuh kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, kita selalu ingin berdo'a dikabulkan dari doa kita, dari apa yang kita inginkan dan (tidak bisa) mengabulkan sebagian kita dari Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Dan tentunya Allāh memerintahkan kita untuk berdo'a yakni kita melaksanakan maka keutamaan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Maka hendaknya kita tidak merasa lelah, atau bosan dalam berdoa meskipun Allāh belum mengabulkan karena dengan sekedar kita berdo'a saja sudah ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Bagaimana kita menyesal dalam beribadah, makanya kalau kita berdo'a dan Allāh belum mengabulkan maka terus kita berdo'a, karena itu merupakan ibadah kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Bahkan Rasūlullāh menyatakan adalah ibadah yang paling utama.

Hadits yang agung ini menunjukkan tentang keutamaan dari do'a yang merupakan pernyataan ketundukan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, kebutuhan seorang hamba kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, yang ini sangat dicintai Allāh. Tidak ada seorang yang paling suka diminta dari pada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Kalau manusia diminta tidak suka, kalau Allāh tidak diminta justru Dia tidak suka. Bahkan menyatakan bahwa orang yang tidak meminta kepada Allāh tidak berdo'a pada Allāh, dia adalah orang yang sombong, dia akan masuk neraka dalam keadaan hina.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka hadits yang agung ini menyebutkan pentingnya, agungnya do'a, karena sesungguhnya Allāh cinta seorang minta padaNya. Dan bahkan ketika seorang terus meminta, memohon pada Allāh, Allāh lebih mencintainya lebih menyukainya.

Karena itulah maka wajib atas kita semua agar senantiasa berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, karena do'a adalah kebaikan bahkan ibadah yang paling utama. Apalagi ketika Allāh mengabulkan dari do'a tersebut, mengabulkan di dunia dengan segera ataupun Allāh mengabulkan di akhirat, memberikan pahala yang sebanding dengan do'a tersebut atau menepis kecurigaan hati kita, dengan sebab do'a kita.

Ini semua adalah kebaikan bagi kita semua, maka tidak ada rugi sedikit pun bagi seorang yang berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Dan berkata Marwah bin 'Ijli: “Aku berdo'a kepada Allah dalam suatu kebutuhan, duapuluh tahun, ternyata Allāh belum mengabulkan, aku tidak putus asa dari do'a selama duapuluh tahun tersebut.“

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, karena inilah maka banyak dari para salaf ashsholeh yang mereka selalu terus menerus (mudawamah) dalam suatu do'a sebagaimana mereka terus menerus membaca bagian dari Al-qurān.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka marilah kita semua selalu berdo'a pada Allāh, berharap kebaikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dan juga jangan sampai kita putus asa dari berdo'a, karena berdo'a itu ibadah yang paling afdhāl (paling utama). Dan bahkan banyak sekali kebaikan pada kita dan menjadikan kita hamba yang dicintai Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

بارك الله فيكم

و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركات

Jodoh Hadits 45

Syarah Hadits ke-45
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC

بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.

قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

Dzikir yang paling utama adalah لا إله إلا الله dan do'a yang paling utama adalah الحمد لله.

Hadits ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi di dalam Jami’nya, Imam Nasā’i dalam Sunannya, Al-Imam Majid dalam Sunannya dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahih Al-Jāmi' AshShaghīr.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh 'Azza wa Jalla, hadits yang agung ini menunjukkan kepada kita tentang 2 perkara yang paling utama;

Yang pertama adalah tentang dzikir yang paling utama adalah dzikir لا إله إلا الله.

Karena لا إله إلا الله adalah suatu kalimat yang agung, yang kalimat ini  mengandung penolakan kepada seluruh peribadatan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, sekaligus menetapkan ibadah semata-mata kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Inilah yang merupakan tujuan manusia diciptakan di dunia, karena Allāh berfirman dalam kitabNya:

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali mereka beribadah kepadaKu. (AdzDzariyāt 56)

Dan dalam tafsirnya لِوَحِّدُوْن (mentauhidkanKu), beribadah semata kepadaKu dan tidak menyekutukanKu dengan apapun selainKu.

Kemudian juga لا إله إلا الله adalah kalimat yang agung, yang dalam kalimat inilah maka seorang masuk dalam lingkup Islam. Di kalimat inilah maka dia selamat dari kekalnya di neraka karena ketika seseorang telah mengucapkan kalimat لا إله إلا الله  telah dinyatakan masuk dalam Islam yang akan menjadikan dia selamat dari kekalnya neraka dan kekafiran.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan bahwa لا إله إلا الله adalah hal yang merupakan pembuka pintu surga. Karena surga dibuka oleh orang yang beriman ketika Allāh menyebutkan ketika dibuka pintu surga, kemudian yang masuk adalah orang yang beriman, yaitu yang beriman dan bertauhid, yang mereka melaksanakan dari makna لا إله إلا الله beribadah semata kepada Allāh dan menafikkan segala peribadahan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Ini adalah kalimat yang agung yang tidak ada yang bisa membandinginya bahkan paling berat timbangannya pada kiamat.

Yang mana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadits yang mahsyur dalam haditsul bithāqah bahwa pada hari kiamat didatangkan pada seorang yang didatangkan pada dia 100 catatan amalannya yang jelek. Yang dia merasa sudah binasa. Kemudian Allāh mengeluarkan sebuah kartu yang bertulis لا إله إلا الله, kemudian ditimbang ternyata kalimat لا إله إلا الله lebih berat dari seluruh amalan kejelekannya. Dan dia selamat dengan kalimat لا إله إلا الله ini.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka kalimat tauhid لا إله إلا الله adalah kalimat yang disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagai afdhālul dzikri (dzikir yang paling utama), yang paling afdhol.

Kemudian juga Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, bagian kedua dari hadits ini adalah menjelaskan tentang do'a yang paling afdhāl, do'a yang paling utama. Rasulullāh bersabda:

و أفضل الدعاء الحمد لله

Do'a yang paling utama adalah الحمد لله.

Karena doa adalah dzikrullāh dan meminta hajat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dan الحمد (pujian) kepada Allāh ini meliputi semuanya. Karena orang memuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā adalah memuji atas nikmat Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Dan orang yang memuji pada nikmat, bersyukur pada nikmat ini berarti dia minta ditambah nikmat tersebut dari Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Karena Allāh berfirman dalam kitabNya:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ


Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan tambah nikmatKu atas kalian. (Ibrahim 7)

Kemudian berkata Athibiy rahimahullāhu Ta'ālā, beliau menyatakan barangkali menjadikan do'a yang paling afdhol kalimat  الحمد لله karena doa ini, yaitu الحمد لله do'a yang lembut, yang sangat bisa untuk dikabulkan do'a tersebut.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits yang agung ini menunjukkan bahwa dua kalimat ini afdhāl dari jenisnya. Dzikir yang paling afdhāl adalah kalimat لا إله إلا الله dan doa yang paling afdhāl adalah kalimat الحمد لله.

Kemudian berkata Albattar Ad-Damamimi beliau mengatakan: “Tidaklah terhalang bahwa dzikir ini akan bisa mengalahkan amalan lain yang berat dari jihad yang lainnya.”

Meskipun datang dari riwayat lainnya bahwa amalan yang paling afdhāl yang paling berat karena keikhlasan dalam berdzikir adalah berat apalagi di dalam الحمد لله yang ketika dia dalam kondisi yang sempit, tidak mudah bagi orang untuk mengucap الحمد لله. Ketika dia mengucapkan الحمد لله memuji Allāh dalam segala kondisi, berarti dia telah melakukan amalan yang sangat agung, doa yang paling agung yaitu الحمد لله karena itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mencontohkan Beliau selalu mengucapkan memuji Allāh (الحمد لله) dalam segala keadaan.

Ketika mendapatkan kebaikan, beliau mengucapkan:

 الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات

Segala puji bagi Allāh yang dengan Allāh-lah sempurna kebaikan-kebaikan.

Ketika menjadi perkara yang tidak menyenangkan bagi maka Beliau mengucapkan:

الله الحمد على كل حال

Segala puji bagi Allāh atas semua keadaan.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka marilah kita semua memperbanyak dzikir لا إله إلا الله, memperbanyak do'a الحمد لله  yang akan bisa mendapatkan keutamaan di dalam dua perkara itu, yaitu keutamaan yang paling utama dalam dzikir dan keutamaan yang utama dalam do'a karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan bahwa dzikir yang paling utama adalahلا إله إلا الله  dan do'a yang paling utama adalah الحمد لله.

Semoga kita termasuk orang-orang yang banyak bertahlil (mengucapkan لا إله إلا الله), banyak bertahmid (mengucapkan الحمد لله) yang akan mendapatkan keutamaan yang disebutkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

بارك الله فيكم

و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركات

Jodoh Hadits 44

Syarah Hadits ke-44
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC

بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.

قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: لاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ.

Janganlah engkau banyak tertawa karena sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahih Al-Jāmi' AshShaghīr.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits ini merupakan peringatan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dari banyak tertawa yang akan bisa mematikan hati, yang menjadikan hati ini kesat, tidak hidup sama sekali, tidak tergerak dengan nashihat, seperti hati yang mati, yang juga akan menjadikan hati ini lalai dari dzikrullāh, dari tujuan hidup di dunia.

Dan ketika seorang banyak tertawa ini menunjukkan kelalaian dia dari tugas yang utama di dalam menjalankan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka hidupnya hati adalah ketika seorang banyak dzikrullāh, dia banyak mendengarkan Kitabullāh dan Sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, mengingatkan dia pada tujuannya di dunia dari beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Adapun ketika seorang lalai, banyak tertawa merasa senang dengan dunia, maka jelas ini akan melupakan dari tujuan utamanya di dunia, akan membuat lalai dia dari tujuan utamanya di dunia.

Yang ketika hati sudah dimatikan dengan banyak tertawa ini maka akan menjadi di dalam kegelapan seperti mayit yang tidak bisa mendatangkan manfaat bagi dirinya ataupun menepis dari bahaya yang akan datang padanya.

Karena hati yang mati dia tidak bisa memberikan manfaat, tidak bisa menghalangi dari perkara-perkara kejelekan atau mendatangkan kebaikan. Yang ini jelas akan meluputkan kebaikan yang banyak dari pemiliknya.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadits ini melarang kita untuk banyak tertawa yang akan melalaikan kita dari Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dan dzikrullāh, melalaikan kita dari akhirat, dari surga Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Dan berkata 'Umar 'Abdirrahīm rahimahullāh Ta'ālā bahwa orang yang terbiasa tertawa bergurau akan sibuk dengan hal tersebut dari perkara-perkara yang penting. Yang juga akan menghilangkan pikiran dari perkara-perkara yang wajib untuk dilaksanakan.

Demikian juga orang yang banyak tertawa akan hilang kewibawaannya, akan hilang dari kemuliaannya. Karena itulah maka banyak dari para ulama yang menyatakan bahwa di antara penyakit atau racun yang bisa merasuk ke dalam hati adalah banyak tertawa terhadapa kegembiraan dunia yang akan bisa menghilangkan dari hati itu rasa takut itu kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Menghilangkan dari hati mengingat kematian dan hari kiamat yang ini jelas sangat berbahaya sekali.

Padahal Allāh Subhānahu wa Ta'ālā berfirman dalam kitabNya:
وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

Dan mereka bergembira dengan kehidupan dunia, dan tidaklah kehidupan dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat juga hanya sekedar perhiasan saja. (Ar-Ra'd 26)

Kemudian didalam banyak tertawa akan merusak hati. Dan jika hati sudah rusak maka rusaklah jasad semuanya. Karena dalam tubuh manusia ada segumpal daging (hati) itu, yang kalau baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Kalau jelek, akan jelek seluruh tubuhnya.

Ini menunjukkan pentingnya manusia menjaga hatinya dari perkara-perkara yang akan membuat sakit atau bahkan mematikannya, Rasulullāh menjelaskan di antara perkara yang bisa mematikan hati adalah banyak tertawa, yang akan bisa mematikan hati akan menjadi kesat dan tidak menerima petunjuk dan tidak akan ingat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka marilah kita semua berusaha untuk menghidupkan hati kita dengan banyak tadabbur Kitabullāh, membaca, memahami, mengamalkan sunnah-sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan menjauhi hal-hal yang bisa melalaikan kita, yang bisa mematikan kita dari banyak tertawa dan bahkan ketika seorang terbiasa dengan bergurau maka akan sulit baginya untuk menerima nasihat.

Dan bahkan juga akan ada ancaman yang keras dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bagi orang yang berdusta untuk membuat orang tertawa. Beliau 'alayhish shalātu was sallam bersabda:

وَيْلٌ لِمَنْ يَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ النَّاسَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Celakalah bagi orang yang dia berdusta untuk membuat manusia tertawa celakalah bagi dia, celakalah bagi dia, celakalah bagi dia.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka marilah kita menjauhi hal-hal bisa mematikan hati kita dari banyak tertawa dan bergurau yang meskipun manusia terbiasa tapi perkara yang tidak baik di dalam pandangan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kita wajib menjauhinya. Meskipun dengan alasan refreshing dan lain sebagainya tapi tetap seorang tidak boleh berlebihan dalam tertawa yang akan bisa mematikan hatinya.

والله أعلم بالصواب

و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Jodoh Hadits 43

Syarah Hadits ke-43
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC

بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.

قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: لا تدخل الملائكة بيتاً فيه كلب و لا صورة

Para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar.

Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim didalam kedua Shahihnya.

Yang menunjukkan perkara yang penting sekali, yang wajib diketahui oleh setiap muslim, yaitu bahwasanya para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing dan ada gambar.

Dan maksud malaikat disini adalah malaikat rahmah, malaikat barakah, malaikat yang membawa rahmah dan malaikat yang membawa berkah, atau malaikat yang memiliki tugas yang mulia.

Adapun para malaikat yang mencabut nyawa ataupun yang menulis dari amalan-amalan setiap manusia, maka mereka tidak pernah berpisah dari seorang mukallaf.

Maka maksud lafazh hadits ini adalah umum meliputi seluruh malaikat kecuali para malaikat yang khusus dimasukkan dalam kekhususan. Jadi meskipun lafazhnya umum tapi ada yang dikhususan dari keumuman ini yaitu para malaikat yang mereka mencatat amalan setiap manusia kemudian mencabut nyawa, maka mereka tetap masuk karena catatan amal tidak akan pernah lepas satu pun dicatatan malaikat.

Kemudian juga tentang ajal malaikat maut. Ketika ajal seorang sudah waktunya, maka dia akan mencabutnya, dia tidak peduli apakah ada gambar ataupun tidak di rumahnya, tapi akan datang mencabut nyawa orang yang sudah sampai ajalnya ini.

Hadits ini menunjukkan tentang bahaya dari orang yang memasukkan ke dalam rumahnya anjing ataupun gambar-gambar bernyawa.

Dan anjing disini adalah anjing semuanya secara umum, sebagaimana di rajihkan Imam Nawawi.

Meskipun anjing ini dibolehkan untuk dipelihara, seperti anjing yang menjaga tanaman atau anjing untuk berburu, jadi meskipun ini dibolehkan tapi tetap dalam masalah bahayanya ketika masuk dalam rumah tetap dia akan menjadikan malaikat rahmat tidak akan masuk ke dalam rumah tersebut. Meskipun anjing tersebut dibolehkan untuk dipelihara secara syara'.

Ini adalah dirajihkan Imam Nawawi bahwa anjing adalah umum sifatnya, meskipun anjing ini dibolehkan sebagai anjing peliharaan untuk menjaga tanaman atau berburu yang dibolehkan secara syar’i tetap masuk didalam hadits ini, yaitu rumah yang ada anjing tersebut tidak akan dimasuki oleh malaikat rahmah.

Kemudian juga hadits ini  menunjukkan bahaya memasukkan gambar yang bernyawa ke dalam rumah yaitu gambar dimaksud bernyawa itu adalah manusia ataupun binatang.

Adapun yang tidak bernyawa seperti tumbuh-tumbuhan kemudian bebatuan maka tidak masuk didalam larangan hadits ini.

Tidak masuk didalam hadits ini yaitu yang malaikat tidak masuk ke dalam rumah tersebut.

Termasuk gambar yang bernyawa yang menjadikan malaikat tidak masuk sebagaimana yang dijelaskan para ulama adalah gambar yang dipajang, yang nampak jelas. Bukan gambar yang tersembuny (tidak tersembunyi), ini tidak masuk di dalam hadits ini.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits ini menunjukkan tentang bahaya rumah yang ada di dalamnya perkara-perkara yang membuat malaikat rahmat tidak masuk. Tentunya ini sangat berbahaya sekali. Karena ketika malaikat rahmat tidak masuk maka syaithan akan masuk kemudian akan menggoda dan mengajak kepada kejelekan yang ini jelas akan merugikan kepada penghuni rumah tersebut.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka wajib atas setiap muslim untuk mengetahui tentang hadits ini dan menjauhkan rumahnya dari gambar yang bernyawa kemudian anjing agar tidak menjadikan malaikat lari darinya.
Dan berusaha untuk menjadikan rumah tersebut rumah yang berkah, dibacakan ayat Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, dibacakan hadits-hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kemudian juga dilakukan keta'atan ibadah didalamnya. Dilaksanakan ibadah yang sunnah dari shalat, dari tilawatil qurān dan yang lainnya, yang ini semua akan menjadikan berkah di dalam rumah tersebut.

Maka rumah seorang muslim bukan sekedar sebagai tempat untuk tidur bermalam saja, tapi sekaligus sebagai tarbiyah bagi penghuni rumah tersebut. Yang dengan tarbiyah ini jelas harus dihilangkan perkara-perkara yang membahayakan dari pembinaan tarbiyah, pendidikan kepada penghuni rumah dan dimasukkan hal-hal yang bisa mendidik, yang bisa mengarahkan kepada kebaikan. Jadi kitabullah, kitab-kitab hadits, kemudian juga dari ceramah-ceramah yang bermanfaat yang terekam dalam audio maupun visual.

Adapun hal-hal yang justru memberikan kejelekan seperti anjing ataupun gambar bernyawa ataupun audio yang berisi seruling syaithan, nyanyian-nyanyian syaithan, ini semua jelas wajib dijauhkan dari rumah seorang muslim.

Maka rumah seorang muslim adalah bagaimana rumah tersebut bisa membawa berkah keridhaan Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Bukan yang dipikirkan bagaimana rumah tersebut adalah mewah atau rumah yang secara fisik indah atau megah. Akan tetapi secara ruh dia kosong dari kebaikan, maka ini jelas tidak pantas bagi rumah seorang muslim.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits ini memiliki sabab wurud (sebab datang) nya sebagai hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Umar radhiyallāhu 'anhumā: bahwa suatu saat jibril lambat memberikan wahyu kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. Maka ternyata di dalam rumahnya ada anjing yang kemudian Jibril menyatakan bahwa malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang ada anjing dan gambar yang bernyawa di dalamnya.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, dan juga datang dari hadits yang shahih bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan bahwa ketika ada anjing di dalam rumah, maka pahala orang yang berada didalam rumah tersebut akan berkurang satu qirath setiap harinya.

Ini jelas sangat merugikan sekali.

Kemudian juga memasukkan gambar bernyawa di dalam rumah, ini adalah perkara menjauhkan malaikat masuk ke dalamnya, sekaligus perbuatannya dosa besar, yang gambarnya termasuk dzunub (dosa besar) yang dilarang oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Bahkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan dalam hadits yang shahih bahwa: Di antara orang yang paling jelek pada hari kiamat adalah orang yang menggambar yang bernyawa, yang kemudian Allāh menyuruhnya untuk menghidupkannya.

Dan pasti dia tidak akan mungkin menghidupkannya.

Dan menggambar yang bernyawa adalah termasuk dosa besar karena ada laknat dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam

لعن الله المصورين

Semoga Allāh melaknat orang-orang yang menggambar.

Kemudian juga Rasulullāh memerintahkan agar setiap gambar ini dihilangkan, yang bernyawa dihilangkan. Dan gambar disini yang dimaksud gambar dimensi, gambar dua dimensi, atau juga masuk di dalamnya patung, yaitu 3 dimensi yang semuanya dilarang oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan Rasulullāh pernah melihat di tirai 'Aisyah radhiyallāhu ’anhā ada gambar bernyawa maka beliau tidak mau masuk ke rumahnya kemudian aisyah menjadikannya menjadi dua, dijadikan dihinakan dibawah bantalnya, dipotong dari kepalanya. Ini yang kemudian Rasūlullāh baru masuk ke dalam rumahnya.

Ini menunjukkan bahwasanya gambar yang bernyawa ketika sudah dihilangkan bentuknya yang bernyawa yaitu dihilangkan kepalanya maka dibolehkan dipasang karena dihinakan, tidak dipajang.

Kaum mu’minin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā , maka marilah kita bertakwa kepada Allāh, marilah kita bertaubat kepada Allāh dari seluruh kesalahan kita, menghilangkan segala hal yang menjauhkan malaikat rahmat masuk ke dalam rumah kita.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'ālā memberikan kebaikan pada kita semua dan mendatangkan rahmat dan berkah pada rumah kita dengan dibacakan Kitabullāh, sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, dilakukan ibadah di dalamnya, dijauhkan dari perkara kemaksiatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

بارك الله فيكم

و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Jodoh Hadits 42

Syarah Hadits ke-42
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC

بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.

قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: "Senyummu di wajah saudaramu adalah shadaqah bagimu.”

Hadits ini hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrad, Imam Tirmidzi dalam Jami’nya dan Ibnu Hibban di dalam Shahihnya dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahih Al-Jāmi' AshShaghīr.

Hadits yang agung ini menunjukkan kepada kita tentang pentingnya berwajah yang berseri, tersenyum di wajah saudara kita kaum mukminin, yaitu menampakkan perasaan yang senang, ketika menghadap wajahnya, yang ini merupakan sadaqoh dari kita kepada saudara kita. Sebagaimana hadits yang datang dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang shahih ini, maka ketika kita bertemu dengan saudara kita dengan wajah yang berseri dengan tersenyum maka akan diberi pahala sebagaimana pahala atas sadaqah, yang kita lakukan karena Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Berkata sebagian ulama bahwa tersenyum dan wajah berseri, wajah yang berseri-seri adalah atsar (tanda) dari kecerahan hati, yang Allāh berfirman dalam kitabnya:

وجوه يومئذ مسفرة. ضاحكة مستبشرة

Wajah-wajah pada hari itu bercahaya, yang mereka tertawa, bergembira, berseri.

Berkata Ibnu 'Uyainah rahimahullāhu Ta'ālā: “Wajah yang berseri, keceriaan akan mendatangkan kepada perasaan yang disayang, kebajikan.”

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā,  hadits yang agung ini menunjukkan pada kita diantara jalan-jalan kebaikan, jalan untuk bershadaqah yaitu bahwa islam memberikan kelapangan dan pintu yang banyak bagi setiap mu'min untuk bersadaqoh.

Ketika dia tidak mampu melakukan shadaqah dengan hartanya maka dia bisa dan mampu bershadaqah dengan sikap yang baik, dengan senyumnya dihadapan saudaranya, yang ini tidak membutuhkan biaya yang besar, tidak membutuhkan tenaga yang banyak, yang ini merupakan perkara yang mudah, jika dia mengingatkan ini semata-mata pada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, maka akan mendapatkan pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, arti تبسم (tersenyum) sebagaimana dijelaskan oleh para ulama yaitu menampakkan gigi, atau tersenyum dengan tanpa suara.

Yang ini bukan merupakan perkara yang sulit bagi kita semua untuk melakukannya. Yang ketika seorang meniatkan ini semata karena Allāh Subhānahu wa Ta'ālā maka akan dinilai sebagai shadaqah kita kepadanya, yang shadaqah akan bisa menghapus dari kesalahan. Sebagaimana air akan bisa memadamkan api, sebagaimana hadits yang shahih dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka marilah kita semua berupaya untuk melaksanakan petunjuk Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan sesungguhnya ketika kita berniat kebaikan maka ajaran kebaikan banyak sekali. Dengan kita sekedar menampakkan wajah yang berseri dan senyum kepada saudara kita dihitung shadaqah oleh Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Apalagi kita mampu melakukan lebih dari itu jelas lebih besar pahalanya di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Bahwasanya meremehkan dari kebaikan walaupun sekedar menampakkan wajah yang berseri yang menyenangkan hati saudara kita, itu dinilai shadaqah oleh Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Semoga Allāh selalu memberikan taufik kepada kita untuk bisa melakukan kebaikan, untuk melakukan sikap yang baik dan wajah yang berseri dihadapan saudara kita sehingga dinilai shadaqah oleh Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Jodoh Hadits 41

Syarah Hadits ke-41
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC

بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.

قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: Seorang mu’min dengan mu’min yang lain seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan sebagiannya atas sebagian yang lainnya.

Hadits ini dinyatakan shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam kedua shahihnya.

Hadits ini menunjukkan tentang sebuah pemisalan yang agung dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, membuat pemisalan yang menunjukkan dan menjelaskan bagaimana seharusnya sikap dan perilaku antara kaum mu’minin (antara seorang mu’min dengan mu’min lainnya). Y

Yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan bahwa seorang mu’min dengan saudara seimannya seorang mu’min yang lain seperti sebuah bangunan, yang bangunan ini tidak akan mungkin bisa kuat kecuali ketika bagian-bagian penyusun dari bangunan ini saling menguatkan satu dengan yang lainnya.

Yang ini menunjukkan bahwa ketika seorang mu’min dengan mu’min yang lain, saling membantu diantara mereka, saling menguatkan, maka akan kuatlah dari bangunan iman.

Yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ibaratkan bagaimana eratnya dan bagaimana hubungan yang sangat kuat antara kaum mu’minin sebagai sebuah bangunan yang ketika mereka saling menguatkan maka akan kuatlah dari bangunan mereka dan ketika hubungan mereka lemah maka lemah juga bangunan mereka.

Bahwa hadits ini menunjukkan bahwasanya dengan saling ta'awun (membantu) di antara kaum mu’minin akan menguatkan dari bangunan iman, dari bangunan agama.

Ketika setiap mu’min mereka membantu pada mu’min yang lainnya. Maka setiap mu’min tidak akan mungkin bisa kuat kecuali bantuan mu’min yang lain di dalam perkara agama dan perkara dunia. Yang ini menunjukkan tentang pentingnya kerja sama yang baik antara setiap mu’min dengan mu’min yang lainnya.

Yang Allāh Subhānahu wa Ta'ālā menyatakan tentang bahwa kaum mu’minin dengan kaum mu’minin yang lain adalah seperti sebuah shof (بُنْیانٌ مَرْصُوصٌ). Sebuah bangunan yang tertata, yang saling menguatkan bagian satu dengan yang lain, yang ini menunjukkan tentang pentingnya  kerja sama (ta'awun) yang baik antara kaum mu’minin.

Dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam juga menyatakan:

الله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه‏،

Dan Allāh akan selalu menolong seorang hamba selama hambaNya ini menolong saudaranya.

Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, Allāh menyatakan sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Hajar dan dari Ibnu Bathahal dan yang lainnya bahwa mu'awanah (saling membantu) diantara kaum mu’minin ini dalam perkara akhirat dan demikian juga dalam perkara dunia. Yang ini semua perkara yang disunahkan, yang dianjurkan agar kaum mu’minin saling membantu diantara sesama mereka.

Dan berkata Imam Nawawi rahimahullāh Ta'ālā di dalam syarah hadits ini bahwa hadist ini adalah jelas di dalam wajibnya mengagungkan hak kaum muslimin sebagian mereka dengan sebagian yang lain.

Dan hasungan agar kaum mu’minin senantiasa saling merahmati diantara mereka, saling membantu, saling menolong diantara mereka di dalam perkara-perkara yang dibolehkan secara syara' atau perkara-perkara yang dianjurkan bukan dalam perkara-perkara yang dosa atau perkara yang dibenci syariat Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Kaum mu’minin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, hadits yang agung ini menunjukkan agar kaum mu’minin senantiasa saling merahmati, saling mencintai di antara mereka, masing-masing mencintai saudaranya yang lain sebagaimana dia mencintai pada dirinya sendiri.

Dan berupaya untuk membawa kebaikan pada saudaranya sebagaimana mengupayakan kepada dirinya sendiri.

Maka bangunan tidak akan mungkin kuat ketika bagian-bagiannya tidak semua bersatu dengan yang lain. Demikian juga tidak mungkin kuat dari kaum mu’minin secara keseluruhan sampai mereka menjadi bangunan yang satu, yang lain saling menguatkan satu dengan yang lain, saling menolong, saling membantu di dalam segala hal yang dibutuhkan oleb saudaranya, baik dalam masalah agama maupun masalah dunia dan inilah maka akan didapatkan kebahagian.

Kemudian juga Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menggambarkan dengan gambaran yang lain bahwa antara mu’min yang satu dengan mu’min yang lain seperti tubuh yang satu, yang ketika salah satu merasakan sakit, maka seluruhnya juga merasakan sakitnya.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'ālā selalu memberikan taufiq pada kita untuk bisa saling membantu di antara kaum mu’minin, di antara kita semua kaum mu’minin dan juga saling menolong sehingga akan mendapatkan kebaikan. Kita mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat kita dan juga akan mendapatkan keridhoan Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

الحمد للّه رب العلمين.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Selasa, 27 Januari 2015

Jodoh Hadits 40

Syarah Hadits ke-40
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC

بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.

قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: إِنّ اللَّهَ يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ

Sesungguhnya Allāh mencintai jika seorang diantara kalian melakukan suatu amalan agar memperbaguskannya.

Hadist ini adalah hadits yang tsabit dari Rasulullah Shallahu’alaihi wassalam, yang diriwayatkan oleh Al Imam Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dan dihasankan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahīh Al-Jāmi' AshShghīr.

Hadits yang agung ini menunjukkan bahwasanya Allāh cinta ketika seseorang melakukan amalan maka dia menyempurnakannya, dia memperbaguskannya, dia menjadikan baik dari perbuatannya dan menjadi sempurna.

Yang Allāh Subhānahu wa Ta'ālā mencintai kesungguhan didalam beramal dan ini menunjukkan bahwa kemahiran atau seorang berusaha untuk sempurna di dalam amalannya termasuk perkara yang dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Dan para ulama menyebutkan bahwa maksud di dalam amalan ini (menyempurnakan amalan) adalah bagaimana menjadikan amalan tersebut amalan yang shalih, amal yang baik yaitu amal yang ikhlash karena Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dan menjadikan amalan tersebut sesuai mencontoh (benar sesuai dengan petunjuk) Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan hadits yang agung ini ada sabab wurudnya (ada sebab Rasūlullāh mengucapkannya), sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Abu Ya’la dan yang lainnya bahwa ada sebagian shahabat yaitu Qulaib AlJarni bersama bapaknya Syi’ab menghadiri jenazah, yang waktu itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menghadirinya. Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda ketika itu:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ مِنَ الْعَامِلِ إِذَا عَمِلَ أَنْ يُحْسِنَ

Sesungguhnya Allāh menyukai dari seseorang yang berbuat amalan agar dia memperbagus dari amalan tersebut.

Kemudian ketika itu jenazah dikuburkan dan tidak sesuai tempatnya atau ada yang kurang pas, maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan pada orang yang lain, tutuplah bagian ini sampai kemudian orang-orang mengatakan dalam sunnah kemudian Rasūlullāh menoleh pada mereka dengan mengatakan: “Ini tidak bermanfaat bagi mayyit akan tetapi tidak memudharatkan, akan tetapi sesungguhnya Allāh jika melihat seorang hamba melakukan amalan maka dia mencintaiNya kalau dia sempurnakan dari amalan tersebut".

Kaum mu’minin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, hadits yang agung ini menunjukkan tentang keutamaan seseorang yang berupaya untuk menyempurnakan amalannya.

Dan juga dalam keterangan para ulama bahwa ini mencakup amalan ukhrawi (ibadah) dan juga amalan yang berhubungan dengan dunia. Yang Allāh mencintai jika seorang melakukan sesuatu agar memperbagus dan menyempurnakan dari amalan tersebut yang ini jelas perkara yang sangat diharapkan dari seorang yang beramal.

Allāh mencintai amalan yang sempurna seperti manusia juga mencintai amalan yang sempurna. Maka ketika seorang berupaya menyempurnakan suatu amalannya dan dia termasuk orang yang mengharapkan dari kecintaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kaum mu’minin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, dengan seorang menyempurnakan amalan maka akan bisa menjadikan seorang akan mendapat cinta Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Kaum mu’minin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, semoga Allāh Subhānahu wa Ta'ālā selalu memberikan taufik kepada kita agar bisa menyempurnakan seluruh amalan kita dengan berupaya sekuat tenaga, memperbagus seluruh amalan kita, mengikhlashkannya semata kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, memurnikan ittiba' kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, berusaha untuk muhasabah dalam semua amalan kita agar menjadi sempurna.

Kemudian juga berupaya untuk melaksanakan tugas dengan baik karena itu termasuk yang dicintai Allāh ketika seorang melaksanakan tugas dengan sempurna, sekuat tenaga, ini yang termasuk yang dicintai Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

بارك الله فيكم.

الله وإياكم من المحبين المتبعين لرسوله صلى الله عليه وآله وسلم

و السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Jodoh Hadits 39

Syarah Hadits ke-39
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC

بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.

قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: إن أفضل عباد الله يوم القيامة الحمادون

“Sesungguhnya hamba Allāh yang paling mulia pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak memuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jamnya, dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam AshShahīh Al-Jamī' AshShaghīr.

Kaum mu’minin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, hadits yang agung ini, Rasūlullāh menyatakan sesungguhnya orang (para hamba Allāh) yang paling mulia di hari kiamat adalah yang banyak memuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

الحمادون للّه أي الذين يكثرون حمد اللّه

Alhāmmadūn yaitu yang banyak memuji Allāh yaitu mensifati Allāh dengan sifat yang indah, yang Allāh layak menerima seluruh kesempurnaan dari pujian. Dan dia memuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā di dalam kondisi apapun, di dalam kondisi senang, dalam kondisi sempit dia selalu memuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Dan inilah yang dicontoh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang mana 'alayhish shalātu wassalam ketika datang perkara yang menyenangkan maka beliau memuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā seraya mengatakan:

الحمد لله الذي تتم بنعمته الصلهات

Segala puji bagi Allāh yang dengan Allāh-lah sempurna dengan nikmatNya perkara-perkara yang baik.

Dan ketika menjadi perkara yang tidak menyenangkan, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mencontohkan pada umatnya dengan mengucapkan:

الحمد لله على كل حال

Segala puji bagi Allāh di dalam seluruh keadaan.

Ini menunjukkan bahwa di dalam segala kondisi yang terbaik adalah memuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, baik dalam kondisi sempit maupun dalam kondisi yang lapang, dalam kondisi susah maupun kondisi gembira, yang semuanya adalah memuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā di dalam segala kondisi.

Dan orang yang paling banyak memuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, dihadapan makhlukNya merekalah orang-orang yang paling mulia pada hari kiamat di hadapan Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Kaum mu’minin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, hadits yang agung ini menunjukkan tentang perkara yang agung, yang menjadikan seorang mulia disisi Allāh Subhānahu wa Ta'ālā yaitu ketika mereka selalu memuji Allāh dalam segala kondisi, dalam kondisi senang memuji Allāh. Dalam kondisi sempit dan susah memuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā karena semuanya adalah nikmat Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, dengan kehendak Allāh, dengan hikmahNya. Yang semuanya adalah baik bagi seorang hamba. Setiap takdir Allāh adalah baik, tidak ada satu pun takdir Allāh yang tidak baik, baik dalam kondisi menyenangkan, kalau dia bersyukur Allāh akan memberikan pahala yang besar bagi dirinya.

Kalau dia dalam kondisi sempit kemudian dia bersabar maka akan mendapat pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta'ālā sekaligus akan dihapus dari kesalahannya dan diangkat derajatnya.

Kaum mu’minin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, demikian juga bahwa diantara sifat orang-orang yang memuji Allāh ini, keutamaan mereka adalah mereka yang pertama kali dipanggil pada hari kiamat ke surga, sebagaimana hadits yang shahih dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

أَوَّلُ مَنْ يُدْعَى إِلَى الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يَحْمَدُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ         ّ

Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali dipanggil ke surga adalah orang yang banyak memuji Allāh, yaitu orang-orang yang memuji Allāh dalam kondisi sempit maupun kondisi lapang.

Kaum mu’minin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, maka juga diantara sifat umat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, bahwa mereka adalah alhammādūn yaitu yang banyak memuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, yang diriwayatkan bahwa ini terdapat di dalam kitab-kitab terdahulu, yang diriwayatkan bahwa umat Rasūlullāh sifat mereka adalah alhammādūn yaitu pemuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Kaum mu’minin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, maka marilah kita selalu memuji pada Allāh, meyakini dan juga berupaya untuk mengembalikan semua pada Allāh, mengimani seluruh sifat Allāh yang mulia, bahwa seluruh takdirnya adalah baik bagi kita semua. Sehingga kita memuji Allāh dalam segala kondisi, yang kondisi lapang kita bersyukur pada Allāh. Kondisi sempit kita bersabar, yaitu semua baik bagi kita. Sebagaimana sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

عَجَبًا لأمرِ المؤمنِ إِنَّ أمْرَه كُلَّهُ لهُ خَيرٌ وليسَ ذلكَ لأحَدٍ إلا للمُؤْمنِ إِنْ أصَابتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكانتْ خَيرًا لهُ وإنْ أصَابتهُ ضَرَّاءُ صَبرَ فكانتْ خَيرًا لهُ

Sungguh menakjubkan perkara seorang mu’min sesungguhnya seluruh perkara adalah kebaikan. Jika dia mendapat kebaikan dia bersyukur, itulah baik bagi dia, jika menimpa padanya perkara yang tidak menyenangkan maka dia bersabar maka ini adalah baik bagi dirinya.

Maka setiap mu’min adalah baik dalam segala kondisi dan mereka selalu memuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā sebagaimana dinyatakan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang memuji Allāh ketika dalam kondisi kebaikan, kondisi yang senang mengucapkan:

الحمد لله الذي تتم بنعمته الصلهات

Dan ketika kondisi tidak menyenangkan beliau mengatakan:

الحمد لله على كل حال

Dan semoga selalu memberikan taufik pada kita, untuk mengikuti petunjuk Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan mengamalkan dalam kehidupan kita.

و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Jodoh Hadits 38

Syarah Hadits ke-38
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC

بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.

قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحْسَنُكُمْ خُلُقًا

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: "Yang terdekat dari kalian kepada diriku pada hari kiamat majlisnya adalah yang paling bagus dari kalian akhlaqnya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Najjar dan Tirmidzi dan yang lainnya dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahih Al-Jāmi' Ash-Shaghīr.

Hadist yang agung ini menunjukkan kepada kita tentang perkara yang penting sekali. Yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan keutamaannya yaitu barang siapa yang menghendaki dekatnya tempatnya (majlisnya) pada hari kiamat dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam maka hendaknya dia membaguskan dari akhlaqnya.

Karena sesungguhnya seorang akan dikumpulkan dengan orang yang paling dia dicintai. Dan sesungguhnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mencintai orang-orang yang berakhlaq mulia. Yang makārim akhlāq (akhlaq yang mulia) adalah sifat dari sifat para nabi, para shiddiqīn dan juga orang-orang yang shalih. Yang dengan akhlaq yang mulia inilah maka didapatkan derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia.

Yang mana Allāh 'Azza wa Jalla telah mengkhususkan nabiNya dengan suatu ayat yang menggabungkan seluruh akhlaq yang mulia, yang mana Allāh 'Azza wa Jalla berfirman dalam kitabNya:

و انك لعلى خلق عظيم

“Sesungguhnya engkau (Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam) diatas akhlaq yang agung.”

Kemudian juga dengan husnul khulūq (akhlaq yang mulia/baik) akan mewajibkan membawa kepada saling mencintai dan saling menyayangi, kemudian juga saling membantu. Sebaliknya, dengan akhlaq yang jelek akan menimbulkan saling membenci, saling dengki dan saling memusuhi

Oleh karena itulah maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam begitu banyak didalam hadits-haditsnya menghasung kita semua kaum muslimin agar berakhlaq yang mulia.

'Alayhish shalātu was salām bersabda:

أكثر ما يدخل الناس الجنة التقوى وحسن الخلق

Kebanyakan yang memasukkan manusia ke surga adalah taqwa kepada Allāh dan akhlaq yang mulia.

Kemudian juga dalam hadits yang lain Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Sesungguhnya orang dengan akhlaq yang baiknya bisa mencapai derajat orang yang banyak berpuasa dan banyak qiyamul lail.

Kemudian juga manusia yang paling dicintai Allāh adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Dan diantara amalan yang mulia yang dicintai Allāh Subhānahu wa Ta'ālā adalah kesenangan yang dimasukkan ke dalam diri seorang muslim, yaitu ketika dia memberikan sikap yang baik yang menyenangkannya, ini merupakan perkara dicintai Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Dan masih banyak lagi dari arahan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam agar setiap muslim berakhlaq yang mulia menahan diri dari hal yang tidak baik.

Dan juga sirah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah contoh yang terbaik di dalam akhlaq yang mulia. Bagaimana beliau bermualamah, bergaul dengan dirinya bersama istri-istrinya, tetangganya, kaum muslimin yang lemah dan yang jahil (yang bodoh) dari mereka. Bahkan bagaimanakah beliau 'alayhish shalātu was salām bersama orang kafir, yang Allāh berfirman dalam kitabNya:

ولا يجر منكم شنئان قوم على ألا تعدلوا اعدلو هو أقرب للتقوى

Janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum menjadikan kalian tidak adil. Dan berbuat adilah karena adil lebih dekat kepada takwa.

Kaum mu’minin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, hadits yang agung ini menunjukkan kepada kita tentang cara bagaimana kita menjadi orang yang terdekat dengan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pada hari kiamat yaitu dengan membaguskan, memuliakan dari akhlaq kita semua.

Dan pokok (landasan) dari akhlaq yang mulia adalah hendaknya seseorang dia memberikan kebaikan yang dimiliki, yang dia mampu kepada kaum muslimin kepada saudaranya. Kemudian menahan diri dari mengganggu mereka dan juga berupaya menyikapi mereka dengan akhlaq yang baik dengan sikap yang menyenangkan mereka.

Sebaliknya akhlaq yang tercela adalah ketika seseorang memberikan sikap yang jelek dan juga mengganggu dan juga tidak menyikapi dan tidak menghadapi saudaranya dengan sikap yang baik.

Ini adalah akhlaq yang tercela yang selayaknya dijauhi oleh setiap muslim agar dia termasuk orang-orang yang berakhlaq mulia yang dekat dengan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pada hari kiamat.

Kaum mu’minin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, maka marilah kita semua berupaya untuk menjadi orang yang terdekat dengan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pada hari kiamat dengan membaguskan dari akhlaq-akhlaq kita, agar termasuk orang-orang yang terdekat dengan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'ālā selalu memberikan taufiq pada kita agar bisa mengikuti petunjuk Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Bahkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan bahwa kesempurnaan iman dari seorang mu’min diukur dengan kebagusan dari akhlaqnya.

Yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ أَخْلَاقًا،

Orang-orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaqnya.

Maka hendaknya setiap mu’min beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dengan akhlaqnya dan dengan bagaimana baiknya dia bergaulnya bersama seluruh manusia karena Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Bukan karena mengharapkan dukungan mereka, atau mengharapkan kedudukan atau harta ataupun pujian dari mereka atau ingin meminjam harta dari mereka.

Tapi bergaullah dengan manusia dengan baik agar dicintai Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Dan agar dia dicintai oleh manusia dengan dia dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Maka jadilah seorang mu’min menjadikan husnul khuluq sebagai ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Yang dia berupaya bergaul dengan manusia dengan kemahirannya dalam pergaulan dengan mereka dengan baik, dengan orang yang kaya, dengan orang yang miskin, dengan seorang direktur dan juga tukang sapu. Dan seorang yang miskin dengan seorang yang kaya, dia mempergauli mereka dengan baik, sesuai yang dipetunjukkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kaum mu’minin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, marilah kita memperbagus akhlaq kita agar termasuk orang yang dekat dengan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pada hari kiamat.

جعلنا الله وإياكم من الفائزين من المحبين المتبعين لرسوله صلى الله عليه وآله وسلم.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ