Syarah Hadits ke-46
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC
بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.
قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: أفضل العبادة الدعاء
Ibadah yang paling afdhāl (yang paling utama) adalah do'a.
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Mustadrak dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahih Al-Jāmi' AshShaghīr.
Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa ibadah paling utama adalah do'a karena do'a ini Allāh perintahkan di dalam kitabNya. Allāh berfirman di dalam kitabNya:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِين
Dan berkata Rabb (Tuhan) kalian: Berdoalah kalian padaKu, niscaya Aku akan mengabulkan bagi kalian. Sesungguhnya orang yang sombong dari ibadah padaKu (tidak mau padaKu) maka akan masuk neraka dalam keadaan hina. (Ghāfīr 60)
Ayat ini menunjukkan bahwa do'a adalah perintah Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, bahkan Allāh menyatakan bahwa orang yang tidak mau berdo'a maka dia orang yang sombong, akan masuk neraka dalam keadaan hina.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits yang agung ini merupakan berita gembira bagi kita semua karena kita semua sangat butuh kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, kita selalu ingin berdo'a dikabulkan dari doa kita, dari apa yang kita inginkan dan (tidak bisa) mengabulkan sebagian kita dari Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Dan tentunya Allāh memerintahkan kita untuk berdo'a yakni kita melaksanakan maka keutamaan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Maka hendaknya kita tidak merasa lelah, atau bosan dalam berdoa meskipun Allāh belum mengabulkan karena dengan sekedar kita berdo'a saja sudah ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Bagaimana kita menyesal dalam beribadah, makanya kalau kita berdo'a dan Allāh belum mengabulkan maka terus kita berdo'a, karena itu merupakan ibadah kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Bahkan Rasūlullāh menyatakan adalah ibadah yang paling utama.
Hadits yang agung ini menunjukkan tentang keutamaan dari do'a yang merupakan pernyataan ketundukan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, kebutuhan seorang hamba kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, yang ini sangat dicintai Allāh. Tidak ada seorang yang paling suka diminta dari pada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Kalau manusia diminta tidak suka, kalau Allāh tidak diminta justru Dia tidak suka. Bahkan menyatakan bahwa orang yang tidak meminta kepada Allāh tidak berdo'a pada Allāh, dia adalah orang yang sombong, dia akan masuk neraka dalam keadaan hina.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka hadits yang agung ini menyebutkan pentingnya, agungnya do'a, karena sesungguhnya Allāh cinta seorang minta padaNya. Dan bahkan ketika seorang terus meminta, memohon pada Allāh, Allāh lebih mencintainya lebih menyukainya.
Karena itulah maka wajib atas kita semua agar senantiasa berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, karena do'a adalah kebaikan bahkan ibadah yang paling utama. Apalagi ketika Allāh mengabulkan dari do'a tersebut, mengabulkan di dunia dengan segera ataupun Allāh mengabulkan di akhirat, memberikan pahala yang sebanding dengan do'a tersebut atau menepis kecurigaan hati kita, dengan sebab do'a kita.
Ini semua adalah kebaikan bagi kita semua, maka tidak ada rugi sedikit pun bagi seorang yang berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Dan berkata Marwah bin 'Ijli: “Aku berdo'a kepada Allah dalam suatu kebutuhan, duapuluh tahun, ternyata Allāh belum mengabulkan, aku tidak putus asa dari do'a selama duapuluh tahun tersebut.“
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, karena inilah maka banyak dari para salaf ashsholeh yang mereka selalu terus menerus (mudawamah) dalam suatu do'a sebagaimana mereka terus menerus membaca bagian dari Al-qurān.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka marilah kita semua selalu berdo'a pada Allāh, berharap kebaikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dan juga jangan sampai kita putus asa dari berdo'a, karena berdo'a itu ibadah yang paling afdhāl (paling utama). Dan bahkan banyak sekali kebaikan pada kita dan menjadikan kita hamba yang dicintai Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
بارك الله فيكم
و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركات
Rabu, 28 Januari 2015
Jodoh Hadits 45
Syarah Hadits ke-45
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC
بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.
قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ
Dzikir yang paling utama adalah لا إله إلا الله dan do'a yang paling utama adalah الحمد لله.
Hadits ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi di dalam Jami’nya, Imam Nasā’i dalam Sunannya, Al-Imam Majid dalam Sunannya dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahih Al-Jāmi' AshShaghīr.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh 'Azza wa Jalla, hadits yang agung ini menunjukkan kepada kita tentang 2 perkara yang paling utama;
Yang pertama adalah tentang dzikir yang paling utama adalah dzikir لا إله إلا الله.
Karena لا إله إلا الله adalah suatu kalimat yang agung, yang kalimat ini mengandung penolakan kepada seluruh peribadatan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, sekaligus menetapkan ibadah semata-mata kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Inilah yang merupakan tujuan manusia diciptakan di dunia, karena Allāh berfirman dalam kitabNya:
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali mereka beribadah kepadaKu. (AdzDzariyāt 56)
Dan dalam tafsirnya لِوَحِّدُوْن (mentauhidkanKu), beribadah semata kepadaKu dan tidak menyekutukanKu dengan apapun selainKu.
Kemudian juga لا إله إلا الله adalah kalimat yang agung, yang dalam kalimat inilah maka seorang masuk dalam lingkup Islam. Di kalimat inilah maka dia selamat dari kekalnya di neraka karena ketika seseorang telah mengucapkan kalimat لا إله إلا الله telah dinyatakan masuk dalam Islam yang akan menjadikan dia selamat dari kekalnya neraka dan kekafiran.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan bahwa لا إله إلا الله adalah hal yang merupakan pembuka pintu surga. Karena surga dibuka oleh orang yang beriman ketika Allāh menyebutkan ketika dibuka pintu surga, kemudian yang masuk adalah orang yang beriman, yaitu yang beriman dan bertauhid, yang mereka melaksanakan dari makna لا إله إلا الله beribadah semata kepada Allāh dan menafikkan segala peribadahan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Ini adalah kalimat yang agung yang tidak ada yang bisa membandinginya bahkan paling berat timbangannya pada kiamat.
Yang mana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadits yang mahsyur dalam haditsul bithāqah bahwa pada hari kiamat didatangkan pada seorang yang didatangkan pada dia 100 catatan amalannya yang jelek. Yang dia merasa sudah binasa. Kemudian Allāh mengeluarkan sebuah kartu yang bertulis لا إله إلا الله, kemudian ditimbang ternyata kalimat لا إله إلا الله lebih berat dari seluruh amalan kejelekannya. Dan dia selamat dengan kalimat لا إله إلا الله ini.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka kalimat tauhid لا إله إلا الله adalah kalimat yang disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagai afdhālul dzikri (dzikir yang paling utama), yang paling afdhol.
Kemudian juga Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, bagian kedua dari hadits ini adalah menjelaskan tentang do'a yang paling afdhāl, do'a yang paling utama. Rasulullāh bersabda:
و أفضل الدعاء الحمد لله
Do'a yang paling utama adalah الحمد لله.
Karena doa adalah dzikrullāh dan meminta hajat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dan الحمد (pujian) kepada Allāh ini meliputi semuanya. Karena orang memuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā adalah memuji atas nikmat Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Dan orang yang memuji pada nikmat, bersyukur pada nikmat ini berarti dia minta ditambah nikmat tersebut dari Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Karena Allāh berfirman dalam kitabNya:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ
Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan tambah nikmatKu atas kalian. (Ibrahim 7)
Kemudian berkata Athibiy rahimahullāhu Ta'ālā, beliau menyatakan barangkali menjadikan do'a yang paling afdhol kalimat الحمد لله karena doa ini, yaitu الحمد لله do'a yang lembut, yang sangat bisa untuk dikabulkan do'a tersebut.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits yang agung ini menunjukkan bahwa dua kalimat ini afdhāl dari jenisnya. Dzikir yang paling afdhāl adalah kalimat لا إله إلا الله dan doa yang paling afdhāl adalah kalimat الحمد لله.
Kemudian berkata Albattar Ad-Damamimi beliau mengatakan: “Tidaklah terhalang bahwa dzikir ini akan bisa mengalahkan amalan lain yang berat dari jihad yang lainnya.”
Meskipun datang dari riwayat lainnya bahwa amalan yang paling afdhāl yang paling berat karena keikhlasan dalam berdzikir adalah berat apalagi di dalam الحمد لله yang ketika dia dalam kondisi yang sempit, tidak mudah bagi orang untuk mengucap الحمد لله. Ketika dia mengucapkan الحمد لله memuji Allāh dalam segala kondisi, berarti dia telah melakukan amalan yang sangat agung, doa yang paling agung yaitu الحمد لله karena itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mencontohkan Beliau selalu mengucapkan memuji Allāh (الحمد لله) dalam segala keadaan.
Ketika mendapatkan kebaikan, beliau mengucapkan:
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات
Segala puji bagi Allāh yang dengan Allāh-lah sempurna kebaikan-kebaikan.
Ketika menjadi perkara yang tidak menyenangkan bagi maka Beliau mengucapkan:
الله الحمد على كل حال
Segala puji bagi Allāh atas semua keadaan.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka marilah kita semua memperbanyak dzikir لا إله إلا الله, memperbanyak do'a الحمد لله yang akan bisa mendapatkan keutamaan di dalam dua perkara itu, yaitu keutamaan yang paling utama dalam dzikir dan keutamaan yang utama dalam do'a karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan bahwa dzikir yang paling utama adalahلا إله إلا الله dan do'a yang paling utama adalah الحمد لله.
Semoga kita termasuk orang-orang yang banyak bertahlil (mengucapkan لا إله إلا الله), banyak bertahmid (mengucapkan الحمد لله) yang akan mendapatkan keutamaan yang disebutkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
بارك الله فيكم
و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركات
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC
بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.
قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ
Dzikir yang paling utama adalah لا إله إلا الله dan do'a yang paling utama adalah الحمد لله.
Hadits ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi di dalam Jami’nya, Imam Nasā’i dalam Sunannya, Al-Imam Majid dalam Sunannya dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahih Al-Jāmi' AshShaghīr.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh 'Azza wa Jalla, hadits yang agung ini menunjukkan kepada kita tentang 2 perkara yang paling utama;
Yang pertama adalah tentang dzikir yang paling utama adalah dzikir لا إله إلا الله.
Karena لا إله إلا الله adalah suatu kalimat yang agung, yang kalimat ini mengandung penolakan kepada seluruh peribadatan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, sekaligus menetapkan ibadah semata-mata kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Inilah yang merupakan tujuan manusia diciptakan di dunia, karena Allāh berfirman dalam kitabNya:
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali mereka beribadah kepadaKu. (AdzDzariyāt 56)
Dan dalam tafsirnya لِوَحِّدُوْن (mentauhidkanKu), beribadah semata kepadaKu dan tidak menyekutukanKu dengan apapun selainKu.
Kemudian juga لا إله إلا الله adalah kalimat yang agung, yang dalam kalimat inilah maka seorang masuk dalam lingkup Islam. Di kalimat inilah maka dia selamat dari kekalnya di neraka karena ketika seseorang telah mengucapkan kalimat لا إله إلا الله telah dinyatakan masuk dalam Islam yang akan menjadikan dia selamat dari kekalnya neraka dan kekafiran.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan bahwa لا إله إلا الله adalah hal yang merupakan pembuka pintu surga. Karena surga dibuka oleh orang yang beriman ketika Allāh menyebutkan ketika dibuka pintu surga, kemudian yang masuk adalah orang yang beriman, yaitu yang beriman dan bertauhid, yang mereka melaksanakan dari makna لا إله إلا الله beribadah semata kepada Allāh dan menafikkan segala peribadahan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Ini adalah kalimat yang agung yang tidak ada yang bisa membandinginya bahkan paling berat timbangannya pada kiamat.
Yang mana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadits yang mahsyur dalam haditsul bithāqah bahwa pada hari kiamat didatangkan pada seorang yang didatangkan pada dia 100 catatan amalannya yang jelek. Yang dia merasa sudah binasa. Kemudian Allāh mengeluarkan sebuah kartu yang bertulis لا إله إلا الله, kemudian ditimbang ternyata kalimat لا إله إلا الله lebih berat dari seluruh amalan kejelekannya. Dan dia selamat dengan kalimat لا إله إلا الله ini.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka kalimat tauhid لا إله إلا الله adalah kalimat yang disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagai afdhālul dzikri (dzikir yang paling utama), yang paling afdhol.
Kemudian juga Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, bagian kedua dari hadits ini adalah menjelaskan tentang do'a yang paling afdhāl, do'a yang paling utama. Rasulullāh bersabda:
و أفضل الدعاء الحمد لله
Do'a yang paling utama adalah الحمد لله.
Karena doa adalah dzikrullāh dan meminta hajat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dan الحمد (pujian) kepada Allāh ini meliputi semuanya. Karena orang memuji Allāh Subhānahu wa Ta'ālā adalah memuji atas nikmat Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Dan orang yang memuji pada nikmat, bersyukur pada nikmat ini berarti dia minta ditambah nikmat tersebut dari Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Karena Allāh berfirman dalam kitabNya:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ
Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan tambah nikmatKu atas kalian. (Ibrahim 7)
Kemudian berkata Athibiy rahimahullāhu Ta'ālā, beliau menyatakan barangkali menjadikan do'a yang paling afdhol kalimat الحمد لله karena doa ini, yaitu الحمد لله do'a yang lembut, yang sangat bisa untuk dikabulkan do'a tersebut.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits yang agung ini menunjukkan bahwa dua kalimat ini afdhāl dari jenisnya. Dzikir yang paling afdhāl adalah kalimat لا إله إلا الله dan doa yang paling afdhāl adalah kalimat الحمد لله.
Kemudian berkata Albattar Ad-Damamimi beliau mengatakan: “Tidaklah terhalang bahwa dzikir ini akan bisa mengalahkan amalan lain yang berat dari jihad yang lainnya.”
Meskipun datang dari riwayat lainnya bahwa amalan yang paling afdhāl yang paling berat karena keikhlasan dalam berdzikir adalah berat apalagi di dalam الحمد لله yang ketika dia dalam kondisi yang sempit, tidak mudah bagi orang untuk mengucap الحمد لله. Ketika dia mengucapkan الحمد لله memuji Allāh dalam segala kondisi, berarti dia telah melakukan amalan yang sangat agung, doa yang paling agung yaitu الحمد لله karena itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mencontohkan Beliau selalu mengucapkan memuji Allāh (الحمد لله) dalam segala keadaan.
Ketika mendapatkan kebaikan, beliau mengucapkan:
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات
Segala puji bagi Allāh yang dengan Allāh-lah sempurna kebaikan-kebaikan.
Ketika menjadi perkara yang tidak menyenangkan bagi maka Beliau mengucapkan:
الله الحمد على كل حال
Segala puji bagi Allāh atas semua keadaan.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka marilah kita semua memperbanyak dzikir لا إله إلا الله, memperbanyak do'a الحمد لله yang akan bisa mendapatkan keutamaan di dalam dua perkara itu, yaitu keutamaan yang paling utama dalam dzikir dan keutamaan yang utama dalam do'a karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan bahwa dzikir yang paling utama adalahلا إله إلا الله dan do'a yang paling utama adalah الحمد لله.
Semoga kita termasuk orang-orang yang banyak bertahlil (mengucapkan لا إله إلا الله), banyak bertahmid (mengucapkan الحمد لله) yang akan mendapatkan keutamaan yang disebutkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
بارك الله فيكم
و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركات
Jodoh Hadits 44
Syarah Hadits ke-44
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC
بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.
قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: لاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ.
Janganlah engkau banyak tertawa karena sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahih Al-Jāmi' AshShaghīr.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits ini merupakan peringatan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dari banyak tertawa yang akan bisa mematikan hati, yang menjadikan hati ini kesat, tidak hidup sama sekali, tidak tergerak dengan nashihat, seperti hati yang mati, yang juga akan menjadikan hati ini lalai dari dzikrullāh, dari tujuan hidup di dunia.
Dan ketika seorang banyak tertawa ini menunjukkan kelalaian dia dari tugas yang utama di dalam menjalankan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka hidupnya hati adalah ketika seorang banyak dzikrullāh, dia banyak mendengarkan Kitabullāh dan Sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, mengingatkan dia pada tujuannya di dunia dari beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Adapun ketika seorang lalai, banyak tertawa merasa senang dengan dunia, maka jelas ini akan melupakan dari tujuan utamanya di dunia, akan membuat lalai dia dari tujuan utamanya di dunia.
Yang ketika hati sudah dimatikan dengan banyak tertawa ini maka akan menjadi di dalam kegelapan seperti mayit yang tidak bisa mendatangkan manfaat bagi dirinya ataupun menepis dari bahaya yang akan datang padanya.
Karena hati yang mati dia tidak bisa memberikan manfaat, tidak bisa menghalangi dari perkara-perkara kejelekan atau mendatangkan kebaikan. Yang ini jelas akan meluputkan kebaikan yang banyak dari pemiliknya.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadits ini melarang kita untuk banyak tertawa yang akan melalaikan kita dari Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dan dzikrullāh, melalaikan kita dari akhirat, dari surga Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Dan berkata 'Umar 'Abdirrahīm rahimahullāh Ta'ālā bahwa orang yang terbiasa tertawa bergurau akan sibuk dengan hal tersebut dari perkara-perkara yang penting. Yang juga akan menghilangkan pikiran dari perkara-perkara yang wajib untuk dilaksanakan.
Demikian juga orang yang banyak tertawa akan hilang kewibawaannya, akan hilang dari kemuliaannya. Karena itulah maka banyak dari para ulama yang menyatakan bahwa di antara penyakit atau racun yang bisa merasuk ke dalam hati adalah banyak tertawa terhadapa kegembiraan dunia yang akan bisa menghilangkan dari hati itu rasa takut itu kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Menghilangkan dari hati mengingat kematian dan hari kiamat yang ini jelas sangat berbahaya sekali.
Padahal Allāh Subhānahu wa Ta'ālā berfirman dalam kitabNya:
وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ
Dan mereka bergembira dengan kehidupan dunia, dan tidaklah kehidupan dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat juga hanya sekedar perhiasan saja. (Ar-Ra'd 26)
Kemudian didalam banyak tertawa akan merusak hati. Dan jika hati sudah rusak maka rusaklah jasad semuanya. Karena dalam tubuh manusia ada segumpal daging (hati) itu, yang kalau baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Kalau jelek, akan jelek seluruh tubuhnya.
Ini menunjukkan pentingnya manusia menjaga hatinya dari perkara-perkara yang akan membuat sakit atau bahkan mematikannya, Rasulullāh menjelaskan di antara perkara yang bisa mematikan hati adalah banyak tertawa, yang akan bisa mematikan hati akan menjadi kesat dan tidak menerima petunjuk dan tidak akan ingat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka marilah kita semua berusaha untuk menghidupkan hati kita dengan banyak tadabbur Kitabullāh, membaca, memahami, mengamalkan sunnah-sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan menjauhi hal-hal yang bisa melalaikan kita, yang bisa mematikan kita dari banyak tertawa dan bahkan ketika seorang terbiasa dengan bergurau maka akan sulit baginya untuk menerima nasihat.
Dan bahkan juga akan ada ancaman yang keras dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bagi orang yang berdusta untuk membuat orang tertawa. Beliau 'alayhish shalātu was sallam bersabda:
وَيْلٌ لِمَنْ يَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ النَّاسَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
Celakalah bagi orang yang dia berdusta untuk membuat manusia tertawa celakalah bagi dia, celakalah bagi dia, celakalah bagi dia.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka marilah kita menjauhi hal-hal bisa mematikan hati kita dari banyak tertawa dan bergurau yang meskipun manusia terbiasa tapi perkara yang tidak baik di dalam pandangan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kita wajib menjauhinya. Meskipun dengan alasan refreshing dan lain sebagainya tapi tetap seorang tidak boleh berlebihan dalam tertawa yang akan bisa mematikan hatinya.
والله أعلم بالصواب
و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Oleh Ustadz Arif Fathul 'Ulum, LC
بسم اللّه. إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا. أما بعد.
قَدْ قَالَ رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم: لاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ.
Janganlah engkau banyak tertawa karena sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahih Al-Jāmi' AshShaghīr.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, hadits ini merupakan peringatan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dari banyak tertawa yang akan bisa mematikan hati, yang menjadikan hati ini kesat, tidak hidup sama sekali, tidak tergerak dengan nashihat, seperti hati yang mati, yang juga akan menjadikan hati ini lalai dari dzikrullāh, dari tujuan hidup di dunia.
Dan ketika seorang banyak tertawa ini menunjukkan kelalaian dia dari tugas yang utama di dalam menjalankan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka hidupnya hati adalah ketika seorang banyak dzikrullāh, dia banyak mendengarkan Kitabullāh dan Sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, mengingatkan dia pada tujuannya di dunia dari beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Adapun ketika seorang lalai, banyak tertawa merasa senang dengan dunia, maka jelas ini akan melupakan dari tujuan utamanya di dunia, akan membuat lalai dia dari tujuan utamanya di dunia.
Yang ketika hati sudah dimatikan dengan banyak tertawa ini maka akan menjadi di dalam kegelapan seperti mayit yang tidak bisa mendatangkan manfaat bagi dirinya ataupun menepis dari bahaya yang akan datang padanya.
Karena hati yang mati dia tidak bisa memberikan manfaat, tidak bisa menghalangi dari perkara-perkara kejelekan atau mendatangkan kebaikan. Yang ini jelas akan meluputkan kebaikan yang banyak dari pemiliknya.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadits ini melarang kita untuk banyak tertawa yang akan melalaikan kita dari Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dan dzikrullāh, melalaikan kita dari akhirat, dari surga Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Dan berkata 'Umar 'Abdirrahīm rahimahullāh Ta'ālā bahwa orang yang terbiasa tertawa bergurau akan sibuk dengan hal tersebut dari perkara-perkara yang penting. Yang juga akan menghilangkan pikiran dari perkara-perkara yang wajib untuk dilaksanakan.
Demikian juga orang yang banyak tertawa akan hilang kewibawaannya, akan hilang dari kemuliaannya. Karena itulah maka banyak dari para ulama yang menyatakan bahwa di antara penyakit atau racun yang bisa merasuk ke dalam hati adalah banyak tertawa terhadapa kegembiraan dunia yang akan bisa menghilangkan dari hati itu rasa takut itu kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā. Menghilangkan dari hati mengingat kematian dan hari kiamat yang ini jelas sangat berbahaya sekali.
Padahal Allāh Subhānahu wa Ta'ālā berfirman dalam kitabNya:
وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ
Dan mereka bergembira dengan kehidupan dunia, dan tidaklah kehidupan dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat juga hanya sekedar perhiasan saja. (Ar-Ra'd 26)
Kemudian didalam banyak tertawa akan merusak hati. Dan jika hati sudah rusak maka rusaklah jasad semuanya. Karena dalam tubuh manusia ada segumpal daging (hati) itu, yang kalau baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Kalau jelek, akan jelek seluruh tubuhnya.
Ini menunjukkan pentingnya manusia menjaga hatinya dari perkara-perkara yang akan membuat sakit atau bahkan mematikannya, Rasulullāh menjelaskan di antara perkara yang bisa mematikan hati adalah banyak tertawa, yang akan bisa mematikan hati akan menjadi kesat dan tidak menerima petunjuk dan tidak akan ingat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka marilah kita semua berusaha untuk menghidupkan hati kita dengan banyak tadabbur Kitabullāh, membaca, memahami, mengamalkan sunnah-sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan menjauhi hal-hal yang bisa melalaikan kita, yang bisa mematikan kita dari banyak tertawa dan bahkan ketika seorang terbiasa dengan bergurau maka akan sulit baginya untuk menerima nasihat.
Dan bahkan juga akan ada ancaman yang keras dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bagi orang yang berdusta untuk membuat orang tertawa. Beliau 'alayhish shalātu was sallam bersabda:
وَيْلٌ لِمَنْ يَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ النَّاسَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
Celakalah bagi orang yang dia berdusta untuk membuat manusia tertawa celakalah bagi dia, celakalah bagi dia, celakalah bagi dia.
Kaum mu'minīn yang dirahmati Allāh Subhānahu wa ta'ālā, maka marilah kita menjauhi hal-hal bisa mematikan hati kita dari banyak tertawa dan bergurau yang meskipun manusia terbiasa tapi perkara yang tidak baik di dalam pandangan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kita wajib menjauhinya. Meskipun dengan alasan refreshing dan lain sebagainya tapi tetap seorang tidak boleh berlebihan dalam tertawa yang akan bisa mematikan hatinya.
والله أعلم بالصواب
و صلى الله على محمد و على آله و صحبه أجمعين.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Langganan:
Postingan (Atom)