Minggu, 25 Januari 2015

♥ POM BENSIN CINTA ♥

Written By Nuruddin Abu Faynan on Minggu, 25 Januari 2015 | 02.21

♥ Di pagi hari, suami berangkat ke tempat kerjanya, sedangkan istri tinggal di rumah untuk mengerjakan tugasnya, atau adakalanya sepasang suami istri berangkat ke tempat pekerjaan masing-masing, lalu keduanya bertemu setelah zhuhur di kamar tidur untuk istirahat, kemudian keduanya kembali kepada  kegiatan dan pekerjaannya masing-masing:  adakalanya suami keluar untuk melanjutkan pekerjaannya atau untuk keperluan lain, dan begitu pula seorang istri melanjutkan kegiatannya dengan  mengajari anak-anak dan lain sebagainya, pada malam hari sepasang suami istri bertemu kembali di kamar tidur untuk istirahat.

♥ Setelah melihat kegiatan di atas, kita perhatikan bahwa di sana ada titik kebersamaan antara sepasang suami istri yang mereka mesti bertemu padanya, walaupun  banyak pekerjaan, dan kadang berubahnya suatu hal yang telah direncanakan, namun pada akhirnya ... keduanya mesti bertemu di kamar tidur ... seolah-olah kamar ini bagaikan "pom bensin"  bagi sepasang suami istri, agar mengisi "bahan bakar"  untuk keesokan harinya mereka berangkat kepada pekerjaan masing-masing.

♥ Oleh karena itu, sarana istirahat di kamar tidur mesti terpenuhi, sehingga sepasang suami istri berangkat darinya dengan diri yang tenang dan jiwa yang nyaman.

♥ Peran Kamar Tidur :

Di sini kita bertanya-bertanya tentang beberapa sarana yang membuat ketenangan antara suami istri di kamar tidur, dan sarana-sarana itu :

Sebagian berkaitan dengan penataan & isi kamar tidur: ranjang, aroma wangi, cahaya lampu, warna dan bunga.

Sebagian yang lain berhubungan dengan sisi-sisi antara keduanya sebelum tidur, berupa sentuhan yang lembut, kata-kata romantis, dan hak ranjang.

Kemudian yang utama: "sarana keimanan" antara sepasang suami istri: wudhu sebelum tidur, shalat witir, bacaan surat al-falaq dan surat an-nas (Muawwidzatain), ayat kursi, dzikir do'a sebelum tidur, kemudian bangun untuk shalat pada sepertiga malam yang terakhir, dilanjutkan dengan shalat shubuh dan berdzikir kepada Allah ta'ala.

Sangat Penting :
Sesungguhnya tiga sarana ini penting sekali untuk merealisasikan istirahatnya badan dan jiwa bagi sepasang suamu istri,  dan  di antara sarana untuk merealisasikannya :

✏ Ada yang terletak di pundak seorang istri.
✏ Ada yang terletak di pundak suami.
✏ Ada yang tidak akan terealisasikan kecuali dengan kerjasama keduanya untuk merealisasikannya.

♥ Oleh karenanya sepasang suami istri akan merasakan kenyaman yang tiada bandingannya, kamar tidur merupakan hal yang penting dalam kehidupan keduanya, serta mempunyai suasana yang khusus dan kegiatannya yang khusus pula.

♥ Jika salah seorang dari pasangan suami istri tersebut bepergian sedangkan yang lainnya menetap, pasti kamar tidur itu terasa lain, masing-masing suami istri akan merindukan pasangannya, hal ini karena keduanya merasakan kenyamanan berada bersama pasangannya.

# Perbedaan antara pasangan ini dan pasangan itu :

Jika demikian mesti ada perhatian dengan kamar tidur, karena :
- Berapa banyak perceraian terjadi dengan sebab kamar tidur?
- Berapa banyak pertengkaran terjadi di kamar tidur?
- Berapa banyak penghinaan dan saling meremehkan terjadi di kamar tidur?
- Berapa banyak pukulan dan kekasaran keduanya disaksikan di kamar tidur?

Dan sebaliknya ;
♥ Berapa banyak dari pasangan suami istri dalam keadaan bahagia di kamar tidurnya?

Perbedaan antara pasangan ini dan pasangan itu adalah perbedaan mereka dalam hal kesadaran untuk "kerjasama" yang tulus, serta kesungguhan untuk merealiasasikan sarana-sarana kenyamanan.

Sesungguhnya perbedaan antara "kamar tidur yang bahagia" dengan "kamar tidur yang sengsara" -setelah taufiq dari Allah- adalah perbedaan USAHA pasangan suami istri untuk merealisasikan sarana kenyamanan atau  tidak adanya usaha mereka ke arah tersebut.

♥ Demikian, semoga bermanfa'at.


*Diambil dari artikel tanggal 24/7/2008 via "Muntada Al-Mahabbah" dengan tema: "Mahaththahh Al-Benzin Sya-iun Jadzdzab"

-------------------
Makkah  05/04/1436 H
Dialih bahasakan secara bebas oleh: Nuruddin Abu Faynan
Editor: Arfah Ummu Faynan

http://abufaynan.blogspot.com/2015/01/pom-bensin-cinta.html

PENOPANG DA'WAH, PERTAMA: ✏ "ILMU" ✏

Written By Nuruddin Abu Faynan on Jumat, 23 Januari 2015 | 23.51

Tulisan ini merupakan serial ✏EMPAT BELAS KAIDAH DALAM BERDA'WAH ✏ , yang kali ini masih membahas MUQADDIMAH, Alhamdulillah kita sampai pada pembahasan PENOPANG DA'WAH.

Pada pertemuan ini akan saya sebutkan 7 point yang menopang keberhasilan da'wah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Saudaraku ...
Da'wah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā itu memiliki banyak penopang, yang menjadikan  tujuan yang diinginkan bisa terealisasikan.

Di antara penopang da'wah yang paling penting  adalah:
⑴ ILMU
⑵ IKHLASH
⑶ PANDANGAN & TUJUAN YANG JELAS
⑷ SARANA YANG SELAMAT DARI PENYIMPANGAN
⑸ DIMULAI DARI YANG PALING PENTING, KEMUDIAN YANG PENTING
⑹ STRATEGI YANG SELAMAT DALAM BERDA'WAH
⑺ INTROSPEKSI & EVALUASI

Saudaraku ...
PENOPANG PERTAMA adalah "ILMU"
.
Ilmu syar'i merupakan salah satu penopang tercapainya tujuan yang diinginkan dalam berda'wah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā,  mengetahui kitab Allāh dan mengetahui sunnah Nabi shallallāhu 'alahi wa sallam.

Yang dimaksud dengan "ILMU" di sini adalah mengilmui ketauhidan kepada Allāh dalam ke-Rububiyyah-anNya, ke-Uluhiyyah-annya, juga Asma Allāh dan Shifat Allāh, mengilmui hukum-hukum halal dan haram, mengilmui perkara-perkara yang wajib dan lainnya.

Nampak sekali pentingnya ilmu syar'i, wahyu yang pertama kali  Allah turunkan dalam Al-Qur'an Al-Karim adalah perintah untuk belajar, perintah untuk membaca, perintah untuk menulis,

Allāh Tabāraka Wa Ta'ālā berfirman dalam surat Al'Alaq ayat 1-5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ  (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)

  Memiliki kapasitas ilmu syar'i yang memadai merupakan tuntutan yang amat penting serta penopang yang paling pokok dalam beramal di medan da'wah.

?Mengapa

♥ Karena "ILMU" bisa membimbing kepada agama yang shahih ;  dalam aqidah , ibadah, akhlaq dan semua amalan yang shalih.

♥ Kebodohan dalam agama mengakibatkan nampaknya penyimpangan dan kontradiksi dalam aqidah dan ibadah.

♥ Oleh karena itu Allāh menyanjung kepada ahlul 'ilmu didalam surat AzZumār ayat 9,

Allāh berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ. إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

"Katakanlah "Apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? ". Sesungguhnya orang yang ingat itu adalah yang berakal"

Dalam ayat yang lain Allāh menyanjung ahli ilmu:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Hanyalah saja yang takut kepada Allāh diantara para hambaNya itu adalah para 'ulama" (Fāthir 28)

Demikian
Semoga bermanfaat.

Makkah 04/4/1436 H.
----------------

 By: Ustadz Nuruddin Abu Faynan, pada Grup WhatsApp "Kajian Audio Muslim & Muslimah*
*Dicatat oleh Ukhti Maria Ulfah Ummu Abdirrahman
*Editor: Arfah Ummu Faynan

http://abufaynan.blogspot.com/2015/01/penopang-dawah-pertama-ilmu.html

KAIDAH KETIGA : WAJIB MEMAHAMI DAN MEMPELAJARI "IMAN" DI ATAS MANHAJ SALAF (DELAPAN KAIDAH MENUNTUT ILMU)

Written By Nuruddin Abu Faynan on Kamis, 22 Januari 2015 | 01.25

Sebelum menjelaskan kaidah ketiga dalam memahami agama,  sekilas saya ingatkan tentang kaidah pertama dan kaidah kedua bagi para penuntut ilmu :

Kaidah pertama: Memperbaiki niat dalam belajar
✏ Ikhlas dalam memahami agama.
✏ Waspadalah, jangan sampai mempelajari agama dijadikan sebagai sarana untuk mendapatkan pekerjaan atau jabatan.

Kaidah kedua: Yang pertama kali wajib dipelajari adalah fiqih iman dan fiqih hukum
✏ Dengan memahami fiqih iman dan fiqih hukum, dia akan selamat tatkala bertemu dengan Allah pada hari kiamat.
✏ Tujuan dalam menuntut ilmu agar keimanan kita benar dan ibadah kita benar.
✏ Ilmu ushul fiqih, nahwu, dan lain sebagainya, adalah sebagai sarana untuk memahami ilmu tujuan yaitu iman dan hukum.
✏ Waspadalah, jangan sampai menguasi bidang ilmu sarana seperti  ushul fiqih, ilmu nahwu, dan lain sebagainya, tapi kosong pemahamanya tentang aqidah yang benar dan ibadah yang benar.

Adapun tentang Kaidah yang ketiga:
WAJIB MEMAHAMI DAN MEMPELAJARI "IMAN" DI ATAS MANHAJ SALAF

Apabila engkau belajar memahami tentang iman maka hendaklah engkau mempelajarinya di atas manhaj (metode/pemahaman) salaf.

Yang dimaksud dengan salaf adalah sahabat Rasulullah صلّى اللّه عليه وسلّم.

Jadi, yang dinamakan dengan istilah "salaf" secara umum adalah:
✏ Yang pertama adalah sahabat Rasulullah صلّى اللّه عليه وسلّم,
✏ Kemudian yang mengikuti sahabat
✏ Kemudian mereka yang mengikuti para tabi'in,
✏ Kemudian yang setelah mereka, yaitu para ulama yang diridhai, yang mana mereka itu berjalan di atas manhaj shahabat,
# Seperti para ulama yang empat; Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad.
# Juga seperti para ulama hadits: Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, AnNasaai dan Ibnu Majah
# Dan ulama yang setelah mereka, seperti Ibnu Taimiyyah dan muridnya  yaitu Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir dan Imam AdzDzahabi.

✏Mereka (semua yang disebutkan tadi) dan ulama-ulama yang seperti mereka, yang berjalan diatas manhaj sahabat, mereka itulah para ulama salaf.

Jadi, mereka itulah yang dimaksud dengan istilah salaf.

Apabila engkau mempelajari tentang keimanan, maka pelajarilah fiqih keimanan di atas manhaj mereka.

Berhati-hatilah, jangan sampai para da'i yang mengajak kepada kesesatan memperdayamu ...  

Janganlah engkau tertipu dengan mereka yang membuat manusia tergelincir kepada jalan-jalan kesesatan itu, serta membuatmu jauh dari manhaj salaf.

✏ Mengapa kita sangat membutuhkan untuk memahami "IMAN"  secara khusus dengan manhaj (metode/pemahaman) para shahabat (semoga Allah meridhai mereka semuanya) ?

Lihat selengkapnya di :

http://abufaynan.blogspot.com/2015/01/kaidah-ketiga-wajib-memahami-dan.html