Minggu, 25 Januari 2015

URGENSI AMALAN HATI DALAM IBADAH HAJI & UMRAH Part (2)

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada semulia-mulia nabi, sahabat, keluarganya dan yang mengikutinya sampai hari kiamat, adapun setelah itu:

Saudaraku
Maka membicarakn amalan hati dalam ibadah sangat penting, kenapa penting?
 ✏1- dalam rangka mengingatkan kepada yang lupa dan memberikan peringatan kepada yang lalai tentang pentingnya amalan hati dalam semua ibadah
✏2- amalan hati merupakan salah satu sebab diterimanya ibadah dan mendapatkan pahala yang merupakan buah dari melaksanakan ibadah
✏3-Anggapan yang keliru dari sebagian kaum muslimin yang mendorong untuk kita jelaskan penting amalan hati
Ada diantara sebagian kaum muslimin mengira:
♥amalan hati seperti cinta, takut, berharap, ikhlas, jujur, pasrah, khusu' dan yang lainnya disangka sekedar amalan yang utama dan yang dianjurkan, jika seorang muslim melakukannya maka baginya pahala, dan jika tidak melakukannya, atau ada kekurangan padanya maka tidak apa2.

Pahala yang sempurna  dikhususkan dengan amalan yang dilakukan oleh anggota badan, maka tatkala seorang hamba telah melakukan yang nampak yang dilakukan anggota badan berarti sungguh ia telah melaksanakan yang wajib dan mendapatkan pahala yang sempurna

Saudaraku
Dikarenakan realita sebagian kaum muslim yang kurang memperhatikan amalat hati maka dalam tulisan ini akan kita jelaskan sebagian diantara pentingnya memperhatikan amalan hati dalam setiap ibadah

Saudaraku

Prasangka sebagian kaum muslimin bahwa amalan hati hanya sekedar dianjurkan dan tidak ada kaitannya dengan kesempurnaan pahala  adalah sangat keliru,  karena yang benar bahwa menghadirkan amalan hati dalam setiap ibadah itu sangat penting sekali untuk diperhatikan, kenapa?
♥1- karena amalah hati itu salah satu sebab mendapatkan pahala. karena setiap ibadah dari semua macam ibadah mempunyai dua sisi:
  • sisi yang dzahir yaitu amalan anggota badan.
  • dan sisi yang bathin yaitu amalan hati.


kedua-duanya termasuk ibadah itu, sebagaimana bahwa keduanya adalah sebab mendapatkan pahala.

♥2-karena adanya kekurang dalam amalan hati megurangi pahala yang sangat besar.
karena ada cacat dan kekurangan di salah satu dari kedua sisi yang dzahir dan yang bathin adalah ada kekurangan dan cacat dalam ibadah itu sendiri, bahkan sesungguhnya adanya kekurangan dalam amalan hati sungguh mengurangi pahala yang lebih besar dibandingkan adanya kekurangan dalam amalan anggota badan,
♥3- karena amalan hati adalah pokok dan pondasi ibadah, dan kewajiban amalan hati lebih wajib dari pada kewajiban amalan anggota badan.

Ibnu Qayyim -semoga Allah merahmatinya- mengatakan:
"Maka kewajiban amalan hati adalah lebih wajib dan lebih kuat dari pada kewajiban amalan badan, dan menurut kebayakan manusia seolah olah kewajiban amalan hati itu bukan dari kewajiban agama, padahal yang sebenarnya kewajiban amalan hati itu  termasuk bab yang paling utama  dan yang paling dianjurkan.
Oleh karena itu :
  • anda menyaksikan ada perasaan bersalah bagi yang meninggalkan salah satu kewajiban dari kewajiban amalan badan, padahal  ia  telah meninggalkan apa yang lebih penting dan lebih wajib yaitu melakukan kewajiban amalan hati.
  • anda pun menyaksikan ada perasaan bersalah bagi yang melakukan sekecil (apapun) yang diharamkan, padahal  ia terjerumus dari yang diharamkan dari amalan hati yang lebih diharamkan dan lebih besar dosanya". Igostatu allahafan 2/924, cetakan dar 'alam fawaaid.


♥4-karena sesungguhnya seorang hamba pada hari kiamat akan dihisab dan diberikan balasan  terhadap amalan hatinya, sebagaimana akan dihisab dan diberi balasan terhadap amalan ggota badannya, berdasarkan firman Allah ta'ala:

(أفلا يعلم إذا بعثر ما في القبور، وحصل ما في الصدور)

"Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan. Dan apa yang tersimpan dalam dada dilahirkan" Qs, Al-'adiyat:9-10.

Diayat lain Allah berfirman:

(يوم تبلى السرائر)

"Pada hari ditampakan segala rahasia"Qs, At-Tariq: 9.

♥5- karena penghambaan hati adalah pokok sedangkan  penghambaan anggota badan adalah mengikuti atau cabang dan yang menyempurnakan yang pokok.

♥6- karena sesungguhnya penghambaan hati adalah ruhnya penghambaan anggota badan, makanya amalan hati lebih kuat dari pada amalan badan, akan tetapi bukan berarti meremehkan perkara amalan badan atau ibadah yang dilakukan anggot badan yang nampak sebagai salah satu contohnya adalah
🎋shalat  bagi yang meninggalkannya adalah kufur.
🎋jihad dijalan Allah dan amar ma'ruf nahi munkar dan berdakwah dimama jika ditinggalkan amalan badan tersebut ummat tidak akan  beres dan tidak pula terjaga kejernihan ummat.
Dan amalan ibadah badan lainnya.

♥7- karena bertingkat-tingkatnya amalan hamba disisi Allah dengan sebab bertingkat tingkatnya apa yang ada dalam hati mereka dari amalan hati.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
  • "Maka sesungguhnya amalan itu bertingkat tingkat dengan sebab bertingkat tingkatnya apa yang dalam hati dari keimanan dan keikhlasan,
  • dan sesungguhnya kedua laki2 itu keduanya berada disatu barisan dan antara shalat keduanya berbeda tingkatan pahalanya  sebagaimana perbedaan antara langit dan bumi" Minhajuassunnah (6/221-222).


♥8-karena hati dan apa yang ada padanya dari amalan adalah letak penilaian Rab tabaaraka wa ta'ala
Rasulullah shallallahu alahi wasallam bersabda:
"إن الله لا ينظر الى صوركم و لا إلى أموالكم، ولكن الله ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم"
"Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk postur tubuh kalian dan tidak pula harta kalian, akan tetapi  Allah melihat hati kalian dan perbuatan-perbuatan kalian" Hr, Muslim no 2564.

Coba diperhatikan dalam hadist tsb  yang disebut  pertama kali adalah  hati dan apa yang terdapat padanya dari penghambaan, kemudian disebutkan setelah itu amalan yang dilakukan anggota badan.

Dalam hal ini Ibnu Taimiyyah -semoga Allah merahmatinya- berkata:"amalan yang nampak tidak menjadi beres dan tidak akan diterima kecuali dengan disertai amalan hati" Majmu ' fataawa (11/381).

♥9-karena dengan sebab keberesan hati; maka anggota badanpun akan beres, dan dengan sebab kerusakan hati; maka anggota badan pun akan rusak, maka anggota badan adalah mengikuti hati. NAbi Sallallahu alaihi wasallam bersabda:
ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب
"Ingat bahwa dalam jasad itu ada segumpal darah, apabila beres segumpal darah itu pasti akan beres seluruh jasadnya, dan apabila segumpal darah rusak maka akan rusak seluruh jasadnya, ingat segumpal darah itu adalah hati" HR, Bukhari no 52, & HR, Muslim no 1599.

♥10-karena kelezatan Ibadah dan ketenangan ibadah dan kenyaman ibadah tidaklah terjadi kecuali dengan cara merealisasikan amalan hati ketika melaksanakan ibadah itu.
Maka barangsiapa yang menginginkan kelezatan ibadah dan pandangan mata yang sedap dan  jiwa yang tenang dan dada yang lapang ma aka hendaklah  ia berlomba-lomba dalam kebaikan.

Ini diantara pentingnya menghadirkan amalan hati dalam setiap ibadah.
Semoga bermanfa'at

Bersambung..

ByNuruddin Abu Faynan
Makkah 23/2/1436 H.

♥ URGENSI AMALAN HATI DALAM IBADAH HAJI & UMRAH ♥

By Nuruddin Abu Faynan

Part ( 1)

Segala puji hanya milik Allah pengurus semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada semulia -mulia para nabi dan para utusan nabi kita Muhammad , keluarganya dan semua sahabatnya, adapun setelah itu:

Kalau kita perhatikan kenyataan realiata  kaum muslimin yang ada disekeliling kita  ketika melaksanakn ibadah haji dan umrah itu berbeda-beda kondisi keimanan mereka dan begitu pula sepulangnya mereka dari pelaksanakan ibadah yang sangat agung ini ada yang lebih baik dan utama dari pada sebelumnya baik dari sisi keimanannya, ibadahnya dan akhlaknya, ada pula yang tidak kelihatan perubahan dalam diri mereka kepada yang lebih baik dan utama dalam kehidupan kesehariannya baik yang berhubungan hubungannya akhlak mereka bersama Allah ataupun akhlak mereka bersama manusia.
Maka tulisan ini dalam rangka mengingatkan diri saya dan saudaraku yang kadang kita ini lupa atau pura lupa bahwa ibadah itu ada dua penghambaan yaitu itu penghambahan hati dan penghambaan anggota badan.

Maka kesempurnaan dua penghambaan dalam menjalankan ibadah yang agung ini akan memberikan pengaruh kepada diri kita kondisi keimanan kita kepada yang lebih baik dan utama dengan karunia dari Allah subhanahu wa ta'ala

Berapa banyak kita saksikan diantara sebagian kaum muslimin yang sebelumnya menyia-nyiakan kewajiban-kewajiban dengan melaksanakan ibadah agung ini merupakan titik awal perubahan kepada kondisi keimanan yang lebih baik dan utama , walaupun tidak kita pungkiri ada pula yang kita saksikan realita kebanyakan kaum muslimin ibadah yang agung ini tidak memberikan pengaruh kepada kondisi keimanan yang lebih baik dari pada sebelumnya, hal ini dikarenakan kurangnya penghambaan hati dan penghambaan anggota badan, maka dengan kurangnya salah satu dari penghambaan ketika melaksanakan ibadah yang agung ini pengaruhnya tidak nampak dan penghambaan hati lebih wajib untuk diperhatikan karena penghambaan anggota badan mengikuti penghambaan hati.

Oleh karena itu InsyaAllah dalam tulisan singkat ini akan dijelasakn begitu penting penghmbaan hati atau amalan hati dalam setiap ibadah secara umum dan  dalam ibadah haji dan umrah secara khusus

Saudaraku
Kita sudah mengetahui bahwa melaksanakan ibadah haji dan umrah merupakn ibadah yang sangat agung , kenapa demikian?
  • Karena dengan ibadah haji dan umrah ini kita bisa membenahi hati kita.
  • karena ibadah umrah meliputi amalan hati yang sangat penting seperti mentauhidkan Allah, mengagungkan-Nya, mencintai-Nya, rindu kepada-Nya, takut dari-Nya, berharap kepada-Nya, ketundukan, kepasrahan, kesabaran, tawakal dan selainya dari amalan hati yang merupakan ruh amalan anggota badan dan pondasinya, dan amalan badan yang tidak ada ruhnya (amalan hati) bagaikan badan yang tidak ada ruhnya.


Sungguh Allah Jalla wa ' Ala memerintahkan kepada kita untuk melaksanakn ibadah haji yang terkandung didalamnya perintah ibadah umrah agar membekali diri kita dalam melaksanakan ibadah agung ini dengan dua bekal:
✏1-bekal Hissi (nampak spt materi) yang bisa menyampaikan kita ke makkah, dan  bisa menyempurnakan ibadah kita dengan bekal yang bersifat hissi.
✏2-bekal ma'nawi (tidak nampak) agar menyampaikan diri kita kepada Rabb kita sehingga ibadah kita diterima Allah, dan bisa mengeluarkan kita dari dosa-dosa kita sebagaimana dihari ibu-ibu kita melahirkan kita.
Saudaraku

Bekal ma'nawi itu adalah bekal ketakwaan.
Berdasarkan firman Allah

(وتزودوا فإن خير الزاد التقوى، واتقون يأولى الألباب) البقرة: 197.

"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal" Qs, Al-Baqarah: 197.
Dan asal ketakwaan adalah amalan hati sebagaimana Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: "takwa itu ada disini" mengisyaratkan kepada dadanya 3kali. HR, Muslim no 2564

Dan Nabi shallallahu alahi wasallam bersabda:

لتأخذوا مناسككم

"Hendaklah kalian mengambil manasik kalian" HR, Muslim no 1297.

Nabi shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan kepada sahabat yang mulia- semoga Allah meridhai mereka - supaya mereka mengambil manasik dari Nabi shallallahu alahi wasallam baik secara dzahir maupun baathin.

Maka sebagaimana nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajari kepada para sahabat thawaf, sa'i dan semua manasik secara dzahir begitu pula beliau mengajari mereka agar thawaf dan sa'i mereka dibarengi dengan mengagungkan Rabnya, mencintai-Nya,  tunduk, khusu' dan sambil menangis...dan yang lainya dari badah-ibadah hati.

Dan tatkala kita menela'ah beberapa hadits Nabi shallallahu alahi wasallam pasti kita akan menemukan  sahabat nabi -semoga Allah meridhoi mereka- menjelaskn  sifat haji nabi shallallahu’alaihi wasallam yang terkandung padanya ibadah umrah baik secara dzahir maupun bathin.

Diantara hadist yang menjelaskan sifat haji nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang terkndung padanya ibadah umrah apa yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah -semoga Allah meridhoi kepada keduanya- menyifati keadaan Nabi shallallahu alahi wasallam dalam thawaf:

فبدأ بالحجر فاستلمه، وفاضت عيناه بالبكاء

"Maka Nabi memulai dengan hajar lalu mengusapnya, dan kedua matanya mencucurkan air matanya dengan tangisan" HR, Al-Baihaqi dalam sunan kubra 5/74, Ibnu Katsir berkata dalam sirah nabawiyyah 4/317, ini adalah sanad yang hasan.

Dan Sahabat Jabir  juga menyifati keadaan Nabi shallallahu alahi wasallam tatkala berangkat dari 'Arafah:

أفاض رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وعليه السكينة

"Rasulullah shallallahu alahi wasallam berangkat dari 'Arafah, dan keadaan beliau penuh ketenangan" HR, Nasa'i no 3024, dishahihkan Al-baani dalam shahih sunan annasaai no 2827.

Oleh karena kedudukan keagungan ibadah ini  para ulama sangat meperhatikan dalam menetapkan Syiar haji &umrah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -semoga Allah merahmatinya-  berkata: "Maka yang dimaksud haji adalah beribadah kepada Allah saja di tempat yang diperintahkan untuk beribadah padanya, oleh karena itu ; haji adalah syiar yang lurus, sehingga sekelompok salaf mengatakan : حنفاء لله lurus karena Allah itu adalah haji" iqtidza ashiraatu al-mustaqim 2/370.

Syekh Abdurrahman bin Naasir Assa'di -semoga Allah merahmatinya -mengatakan: "perbuatan - perbuatan dan ucapan-ucapan haji semuanya ada rahasia dan hikmah yang dimaksudkan dari padanya yaitu menegakan penghambaan yang bermacam-macam,  dan keikhlasan kepada yang diibadahi; maka ibadah haji itu dibangun diatas rasa cinta, keikhlasan, tauhid, sanjungan, dan mengingat kepada yang Maha terpuji lagi Maha Agung, maka sesungguhnya disyariatkan manasik haji dalam rangka ditegaknya dzikrullah" Miftah daar assa'aadah 2/869, cetakan daar 'aalam Al-fawaaid.

Renungan bagi yang berhaji dan Umrah

Maka bagi kita yang berhaji atau umrah apabila kita merenungkan apa yang terdapat dalamnya dengan mempokuskan diri kita dalam melaksanakan ibadah haji kita atau umrah kita pasti kita akan mendapatkan didalam ibadah tersebut semacam adanya
  • keterputusan hubungan kita dari dunia
  • menghadapkan diri kita untuk ibadah diserupakan dengan ibadah I'tikaf.


Hasilnya:
Dengan terputusnya hati kita dari dunia ini dan menghadapkam diri kita untuk beribadah yang diserupakan dengan I'tikaf dalam (melaksanakan haji dan umrah) itu : akan mengeluarkan hati kita dari kegelapan kebodohan dan hawa nafsu kepada cahaya iman, petunjuk dan lezatnya keta'atan.

Renungan hakikat ibadah haji (umrah) yang mabrur
Hakikat ibadah haji (umrah) kita yang mabrur yang balasannya surga akan mengeluarkan dari dosanya seperti hari dilahirkan ibunya- demikian pula ibadah umrah yang diterima; pada hakikatnya adalah bagi siapa saja diantara kita yang menyempurnakan ibadah haji atau umrahnya dengan cara: ✏1- merealisasikan keikhlasan karena Allah jalla wa'ala
✏2-menetapi petunjuk nabi shallallahu’alaihi wasallam,

Dan untuk bisa ikhlas dan ngikuti sunnah nabi itu dengan dua perkara:

✏1-melaksanakan amalan-amalan yang nampak seperti ihram, thawaf, sa'i, wukuf diarafah dan selainya.

✏2-melaksanakan amalan-amalan yang tersembunyi, yaitu amalan-amalan hati seperti rasa cinta kepada Allah, pengagungan kepada-Nya, memuliakan-Nya, ketundukan hati kepada-Nya, tawakal kepada-Nya dan pasrah kepada-Nya dan selainya.

Jika ada kecacatan atau kurang pada salah satu dari dua perkara ini akan membuat lemah pengaruh ibadah haji atau ibadah umrah dalam jiwa kita dan  pahalanyapun sedikit.

Dan Hakikat dua perkara itu amalan yang nampak dan amalan tersembunyi adalah iman jadi dua perkara ini pada hakikatnya masuk kedalam katagori yang dinamakan iman menurut Ahlu Assunnah wa Al-Jama'ah, kenapa? karena Ahlu Assunnah wa Al-Jama'ah mendepinisikan Iman adalah : perkataan dan perbuatan,
Yaitu perkataan hati dan perkataan lisan dan perbuatan hati dan perbuatan anggota badan. Lihat: Majmu fataawa ibnu taimiyyah 7/308, 12/372.

Kesimpulannya Maka setiap ibadah :
  • ada yang nampak yaitu: perkataan lisan dan perbuatan anggota badan,
  • dan ada yang bathin yaitu perkataan hati dan perbuatan hati,


Dan hal tersebut secara khusus terdapat dalam ibadah haji dan ibadah umrah.

Dan perlu kita ketahui bahwa amalan hati lebih kuat dan lebih utama untuk dimasukan kepada penamaan iman, dibandingkan perbuatan-perbuatan anggota badan. Sebagaimana Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: "maka masuknya amalan hati ke dalam iman lebih utama dari pada masuknya amalan anggota badan berdasarkan kesepakatan semua golongan" Majmu fataawa 7/506.

Bersambung..

Semoga bermanfa'at
ByNuruddin Abu Faynan
Makkah 22/02/1436 H.

✏ DELAPAN KAIDAH MENUNTUT ILMU ✏ Halaqah 1

By: Ustadz Nuruddin Abu Faynan

KAIDAH KEDUA : YANG PERTAMA KALI WAJIB DIPELAJARI ADALAH TAUHID  DAN FIQIH    
Part 2

الحلقة 16

كذلك كيف تستطيع أن تصحح إيمانك الذي ستلقي عليه ربك ولايقبل أي عمل منك إلا بعد سلامة هذا الإيمان وصحته، حتى تتعلم (التوحيد) الذي هو فقه الايمان، سماه علماء السلف أخذا من حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم، في حديث معاذ بن جبل الذي في الصحيح: لما بعثه رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى أهل اليمن ليعلمهم الإسلام قال له: "إنك تقدم على قوم من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إلى أن يوحدوا الله تعالى.." إذن الإيمان هو التوحيد "فإذا عرفوا ذلك فأخبرهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في يومهم وليلتهم" بدأ من هنا فقه الأحكام، فهذان الفقهان فرض عين على كل مكلف، كل مسلم عليه أن يتعلم منهما الضروري-على قدر طاقته-.
والفقه في المصطلح النبوي إذا أطلق لايراد به الفقه المتعارف عليه بين المتعلمين الذي هو فقه الشريعة، لا يراد هذا فقط، بل يراد معناه المطلق الذي يشمل الفقهين معا، فقه الإيمان، وفقه الأحكام، يشمل: التوحيد والفقه.
إذن عندما نقول التفقه في الدين نعني الأمرين معا: الفقه في العقيدة، والتفقه في الشريعة، لذلك لا تظن أن النصوص التي وردت عن النبي صلى الله عليه وسلم يحث فيها المسلمين على التفقه أو يثني على الفقيه أنه أريد بها فقه الأحكام الشرعية فقط، بل أريد بها الفقه بمعناه الواسع الذي يشمل الفقهين فقه الايمان وفقه الأحكام.

✏ DELAPAN KAIDAH MENUNTUT ILMU ✏
Halaqah 17
By: Ustadz Nuruddin Abu Faynan
KAIDAH KEDUA : YANG PERTAMA KALI WAJIB DIPELAJARI ADALAH TAUHID  DAN FIQIH   
Part 3

الحلقة 17

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "طلب العلم فريضة على كل مسلم"
 أي على كل مكلف رجلا كان أو إمرأة، فلفظه (مسلم) يدخل فيها الذكر والأنثى هكذا في لغة العرب: إذا أطلق وصف المذكر يدخل فيه المؤنث، أما إذا خص الخطاب بالمؤنث لايدخل فيه المذكر، لكن إذا أطلق المذكر يدخل المؤنث إلا بدليل يمنعه من الدخول.
وهنا في هذا الحديث: المقصود الرجال والنساء بكلمة (مسلم)، فطلب العلم "فريضة على كل مسلم" وهذا المراد به الحد الواجب من الفقهين، يعني القدر الذي تصحح به إيمانك يا مسلم وتصححين به إيمانك يا مسلمة، هذا واجب على كل مسلم وكل مسلمة، والقدر الذي يصحح به المسلم عمله وتصحح به المسلمة عملها وعبادتها لربها فرض عين أيضا عليهما أن يتعلماه.

لكن العجب لا ينتهي من أناس يتبحرون في بعض علوم الأدوات كالنحو والمنطق والبلاغة و أصول الفقه، لكنك إذا كشفت عما في صدورهم من فقه تجده بلقما. هو في ذلك العلم بحر متلاطم ولكنه في الحد الواجب صفر اليدين- لايفقه من التوحيد ما يكفي ليصحح إيمانه، ولا يفقه من الأحكام ما يكفي ليصصح عمله.

✏ DELAPAN KAIDAH MENUNTUT ILMU ✏
Halaqah  18
By: Ustadz Nuruddin Abu Faynan
KAIDAH KEDUA : YANG PERTAMA KALI WAJIB DIPELAJARI ADALAH TAUHID  DAN FIQIH  
Part 4

الحلقة 18

لذلك لا تستغرب إذا رأيت عالما كبيرا في أصول الفقه، أو غيره من العلوم، ثم تجده عاكفا عند قبر أو مستغيثا بميت، أو يرقص في حلقة من خلقات الخرافيين، لأن مثل هذا وإن كان بحرا متلاطما في هذا العلم الذي هو من الوسائل وليس من الغايات غفل عن الحد الواجب، لو نبشت ما في صدره من فقه الإيمان لاتجد شيئا، تجد صدره بلقما من فقه الايمان.
......
نحن لاننكر على من يتبحر في علوم الوسائل، إذا تبحر أحد المجتهدين في النحو، أو في أصول الفقه، أو في علم الرجال، أو في علم الأسانيد، أو نحو ذلك من علوم الوسائل، ولكن ننكر عليه انشغاله عن الغاية بالوسيلة حينما يكون خالي الوفاض من الفقهين.
الأعمار محدودة، وعلى المسلم أن يبادر إلى اغتنام عمره فيبدأ بعلوم الغاية، يبدأ بالتوحيد ليصحح إيمانه الذي سيلقى عليه ربه، و بالفقه ليصحح عمله الذي سيلقى به ربه، فإذا ما استوفى الضروري من هذين الفقهين له بعد ذلك أن يتبحر ويتوسع فيما شاء من العلوم الشرعية

✏ DELAPAN KAIDAH MENUNTUT ILMU ✏
Halaqah 15 - 18
By: Ustadz Nuruddin Abu Faynan
KAIDAH KEDUA : YANG PERTAMA KALI WAJIB DIPELAJARI ADALAH TAUHID  DAN FIQIH 

Alhamdulillah washshalaatu wassalaamu 'alaa Rasulillah 'amma ba'du

Saudara-saudaraku yang dimuliakan oleh Allah سبحانه وتعالى
Sebelum menjelaskan kaidah yang kedua dalam menuntut ilmu maka dalam rangka mengulang kembali pelajaran yang lalu diantara intisari dari tulisan yang lalu berkenaan dengan kaidah pertama dalam menuntut ilmu yaitu: "Memperbaiki niat dalam belajar" sebagai berikut:
1-Menuntut Ilmu adalah ibadah yang paling mulia
2-Ilmu adalah sarana untuk memperbaiki aqidah dan ibadah
3-Dua Hawa nafsu yang mesti diwaspadai adalah mempelajari ilmu syar'i dijadikan sarana untuk mendapatkan "pekerjaan" dan "jabatan"
4-keunikan sunnatullah yang menuntut ilmu karena dua niat tersebut tidak ada keberkahan ilmunya walaupun banyak

Ditulisan ini kita akan melanjutkan  berkenaan dengan kaidah yang kedua dalam memahami agama.

Kaidah kedua dalam memahami agama adalah "yang pertama kali wajib dipelajari oleh seorang muslim itu adalah Tauhid dan Fiqih".

Kenapa?
Kami telah mengisyaratkan dua fiqih ini yaitu fiqih iman adalah Tauhid dan fiqih ahkam adalah fiqih syari'at. Karena dengan 2 pemahaman ini  seorang mukallaf bisa membenahi keimanannya ; (sehingga) diatas keimanan yang benar kelak dia bertemu dengan Rabbnya dan bisa membenahi amalannya yang kelak dia pasti bertemu Rabbnya dengan (membawa) amalan yang benar.

Alasan pertama kenapa yang pertama kali wajib dipelajari tauhid dan fiqih karena tujuan kita menuntut ilmu itu bukan karena dzatnya akan tetap tujuan yang lain yaitu selamat dihari kiamat ketika bertemu Allah dalam keadaan keyakinan yang benar dan ibadah yang benar.

Maka kedua ilmu ini,  dan kedua pemahaman ini termasuk fardhu 'ain karena kedua-duanya berhubungan dengan taklief dan kedua-duanya berhubungan dengan perbuatan, maka setiap manusia dibebani untuk beriman, dan dibebani untuk beramal.

Maka karena kedua pemahaman ini yaitu -memahami iman dan memahami hukum- berkaitan dengan pembebanan hukumnya fardhu 'ain atas setiap muslim.

Alasan kedua kenapa mesti yang dipelajari pertama kali tauhid dan fiqih karena hukumnya wajib bagi setiap individu.

Ikhwah sekalian

Jika tidak demikian; yaitu tidak mempelajari yang hukumnya fardu ,ain contohnya adalah memahami hukum.

Maka bagaimana seorang muslim bisa mengikuti Rasulullahصلّى اللّه عليه وسلّم dalam ibadahnya, shalatnya, shaumnya, ibadah hajinya tanpa memahami hukum.

Bagaimana seorang muslim bisa mengeluarkan zakatnya apabila termasuk orang kaya, bagaimana bisa mempraktekkan dalam kondisi-kondisi seperti ini kecuali dengan mempelajari fiqhul ahkam,  memahami hukum yang berkaitan dengan perbuatan. Artinya mempelajari sebatas yang wajib untuk dipraktekkan dari fiqih itu; Yaitu sebatas yang berkaitan yang telah saya contohkan

Artinya karena tujuan mempelajar itu adalah praktek atau pengamalan bukan teori maka mesti dipahami yang wajib setiap individu memahaminya sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu hadist, ilmu usul fiqh dan ilmu-ilmu sarana yang lain yang hukumnya fardu kipayah tidak diwajibkan kepada semua mukallaf.

Demikian pula bagaimana anda bisa membenahi iman anda, padahal anda kelak (pada hari kiamat) bertemu dengan Rabbmu dan tidak akan ada satu amalanpun yang akan diterima darimu kecuali setelah keimanan ini selamat dan benar, sehingga anda mempelajari tauhid, sehingga anda mempelajari tauhid. Yaitu memahami iman. Ulama salaf menamai iman dengan tauhid, diambil dari hadits Nabi صلّى اللّه عليه وسلّم dalam hadits Muadz bin Jabbal yang terdapat dalam Shahih: tatkala Nabi صلّى اللّه عليه وسلّم mengutus Muadz ke Yaman untuk mengajari mereka Islam. Nabi berpesan kepada Muadz :
"bahwasanya anda akan mendatangi  sekelompok dari ahli kitab, maka yang pertama kali anda dakwahkan kepada mereka agar mereka mentauhidkan Allah.." jika demikian iman adalah tauhid. "Maka apabila mereka telah memahami hal itu maka hendaklah anda memberitahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka 5 kali shalat dalam sehari semalam" (1). Dari sini mulai memahami hukum, Maka dua pemahaman ini, fardhu 'ain bagi setiap mukallaf, bagi setiap muslim mesti mempelajari yang penting dari kedua pemahaman ini -sesuai dengan kemampuannya-.

Alasan ketiga karena pesan Nabi shallallahu’alaihi wasallam kepada Mu'ad yang didakwahkan pertama kali kepada Ahlu kitab adalah tauhid yang dinamai oleh ulama salaf adalah iman dan setelah itu fiqih.

Fiqih dalam istilah Nabi, apabila secara umum bukan yang dimaksud dengan fiqih yang  yang biasa dikenal diantara para pelajar yaitu fiqih syari'ah, bukan itu saja yang dimaksud , Akan tetapi yang dimaksud adalah arti fiqih secara umum yang meliputi kedua fiqih bersama-sama yaitu fiqih iman dan fiqih ahkam meliputi : tauhid dan fiqih.
Alasan keempat kenapa yang wajib pertama kali dipelajari adalah fiqih tauhid dan fiqih ahkam krn bahwa arti fiqih dalam istilah syar'i mencakup kedua fiqih besama-sama yaitu fiqih iman (tauhid) dan fiqih ahkam ( syariat)

Jika demikian tatkala kita katakan memahami agama artinya 2 perkara secara berbarengan, memahami akidah dan memahami syari'ah. Oleh karena itu jangan anda sangka bahwasanya nash-nash yang terdapat dari Nabi yang menganjurkan kepada kaum muslimin untuk tafaqquh(memahami agama) atau menyanjung kepada orang yang faqih(paham) maka yang dimaksud dengannya adalah memahami hukum syar'iat saja. Bahkan yang dimaksud dengannya adalah fiqih dengan arti yang luas meliputi  dua fiqih yaitu fiqih iman dan fiqih hukum.

Rasulullah صلّى اللّه عليه وسلّم bersabda : "Menuntut ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim"(2). artinya bagi setiap yang dibebani baik laki-laki atau perempuan.  Maka, kata muslim masuk padanya laki-laki dan perempuan.

Demikianlah (yang dimaksudkan) dalam bahasa arab, apabila secara umum disifati mudzakkar masuk padanya muanntas (perempuan). Adapun apabila dikhusukan khitabnya kepada perempuan, tidak masuk padanya laki-laki.

Akan tetapi apabila disifati kata mudzakkar (penggunaan untuk laki) secara umum, masuk padanya muanntas(pengguaan kata untuk perempuan) kecuali ada dalil yang menghalanginya(perempuan) untuk masuk pada kata muzakar tsb.

Dalam hadits ini, yang dimaksudkan adalah laki-laki dan perempuan dalam kata "muslim". Maka menuntut ilmu itu  wajib bagi setiap muslim".

Yang dimaksud adalah sebatas kewajiban dari kedua pemahaman itu, yakni artinya sekedar yang bisa membenahi dengan ilmu itu adalah keimananmu wahai muslim. Dan bisa membenahi dengan ilmu itu keimananmu wahai muslimah.  Ini adalah kewajiban bagi setiap muslim dan setiap muslimah, yaitu sebatas yang bisa membenahi dengannya(ilmu) seorang muslim amalannya dan seorang muslimah amalannya dan ibadahnya kepada Rabbnya. Ini merupakan kewajiban bagi setiap individu juga bagi kedua-duanya(muslim &muslimah) mesti mempelajarinya.

Akan tetapi yang aneh, tidak berakhir ada sebagian manusia yang luas dalam sebagian ilmu alat, seperti ilmu nahwu, manthiq, balaghah, ushul fiqh, akan tetapi jika anda membuka apa yang ada dalam dada mereka dari pemahaman pasti anda mendapatkannya kosong dalam ilmu itu (iman &fiqih), dia dalam ilmu alat itu luas berilmu bagaikan lautan. Akan tetapi batasan yang wajib  nol.

Alasan kelima kenapa yang mesti dipelajari pertama kali tauhid dan fiqih krn bisa jadi seseorang memiliki ilmu yang luas dibidang ilmu sarana akan tetapi kosong di bidang ilmu tujuan yaitu agar memiliki keimanan yang benar dan agar  beribadah sesuai dengan tuntutan.

-Dan kalian bisa menyaksikan kenyataan yang nampak pada jaman moderen ini- tidak memahami tauhid apa yang bisa mencukupi untuk membenahi imannya dan memahami hukum-hukum yang bisa mencukupi untuk membenahi amalannya.

Oleh karena itu anda jangan  aneh apabila anda melihat ada seorang yang 'alim besar dalam bidang ushul fiqh atau di bidang ilmu yang lainnya. Kemudian anda dapatkan dia beri'tikaf disisi kuburan atau minta tolong kepada mayyit atau menari di majlis diantara majlis  orang khurofah karena (orang-orang shufi), sesungguhnya yang seperti ini walaupun ilmunya luas bertumpuk bagaikan lautan di bidang ilmu ini yang merupakan ilmu sarana dan bukan ilmu tujuan, dia lalai dari batasan yang wajib. Kalau seandainya anda memeriksa apa yang ada di dalam dadanya dari keimanan(yang benar) anda tidak akan mendapatkan sedikitpun, yang akan anda dapatkan didadanya itu kosong dari memahami keimanan.
...

Kami tidak mengingkari terhadap yang mendalami secara luasa dibidang ilmu sarana, apabila salah seorang yang memahami agama mendalami ilmu nahwu atau dibidang ilmu ushul fiqh atau di bidang ilmu rizal atau dibidang ilmu asaanid atau seperti itu dari ilmu-ilmu sarana., akan tetapi yang kami ingkari ilmu sarana itu menyibukannya dari memoelajari ilmu tujuan sehingga dia kosong dari memahami iman dan hukum.

Umur itu terbatas, wajib seorang muslim bersegera untuk memanfaatkan umurnya dimulai dengan ilmu tujuan, memulai dengan tauhid ; untuk membenahi imannya yang kelak dihari kiamat pasti dia akan menemui Rabbnya di atas iman yang benar dan memahami fiqih untuk kebenaran amalannya. Dimana kelak dihari kiamat dia akan bertemu Rabbnya dengan pemahaman yang benar, dengan ibadah yang benar. Maka apabila telah terpenuhi yang dharuri (yang penting) dari dua pemahaman ini, baru setelah itu dia mendalami dan memperluas apa yang dia kehendaki dari ilmu-ilmu syari'ah.

Yaitu memperluas ilmu-ilmu syari'ah yang fardu kifayah spt ilmu nahwu, ilmu usul fiqih , ilmu musthalahu al hadits, dan ilmu balagoh dll.

Demikian yang dapat kami sampaikan.

Mudah-mudahan bermanfa'at.
---------

(1) HR, Bukhari 9/140.
(2) HR, Ibnu Majah& Baihaqi.

Catatan Grup WhatsApp "Kajian Audio Muslim & Muslimah" By. Ustadz Nuruddin Abu Faynan Hafizhahullah.

Ditulis oleh Ukhti Maria Ulfah Ummu Abdirrahman hafizhahallah, dan catatan ini telah diedit oleh pemateri.